Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perekonomian Indonesia menghadapi risiko tekanan yang lebih besar pada semester II-2026 seiring potensi penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan suku bunga global, dan pelemahan daya beli masyarakat.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David E. Sumual menilai, perubahan kondisi global dapat mendorong Indonesia masuk ke zona ekonomi yang kurang menguntungkan.
David memetakan kondisi ekonomi Indonesia berdasarkan dua indikator utama, yakni pergerakan harga komoditas dan indeks dolar AS.
Dari kedua indikator tersebut, ia membagi kondisi ekonomi ke dalam empat zona dengan tingkat tekanan yang berbeda.
Baca Juga: Ekonomi Indonesia Melambat ke 5,29% di Kuartal II-2026, Ini Kata Purbaya
Zona hijau menjadi kondisi paling menguntungkan bagi Indonesia, yakni ketika pasokan global ketat dan likuiditas melonggar.
Zona biru menggambarkan pasokan yang ketat di tengah pengetatan likuiditas, tetapi masih relatif menguntungkan.
Sementara itu, zona biru tua mencerminkan pasokan yang lebih longgar dan likuiditas yang melonggar, sehingga dampaknya cenderung netral.
Adapun zona merah merupakan kondisi paling berisiko, ketika pasokan global melonggar sementara likuiditas mengetat. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan tekanan eksternal terhadap perekonomian Indonesia.
Berdasarkan pemetaan David, posisi Indonesia pada September 2025 hingga Agustus 2026 masih berada di zona hijau dan biru.
Namun, ia mewaspadai kemungkinan pergeseran ke zona merah pada paruh kedua tahun ini.
"Perkiraan saya mungkin di kuartal III, kuartal IV ini kita masih beredar di sini, tapi ada probabilitas kita pindah ke merah," ujar David dalam acara Business Outlook 2027, Senin (19/10/2026).
Baca Juga: Ekonom BCA Peringatkan Risiko Ekonomi Indonesia Masuk Zona Krisis
Ia menegaskan, waktu pergeseran tersebut belum dapat dipastikan.
Sebagai gambaran, zona merah mencerminkan periode dengan tekanan eksternal yang tinggi, seperti saat krisis ekonomi 1998 dan pandemi Covid-19.
Salah satu risiko yang menjadi perhatian David adalah peningkatan utang global setelah pandemi.














