kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   -15.000   -0,54%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Ekonom: Tak bisa hanya andalkan vaksin, protokol kesehatan tetap penting


Minggu, 28 Maret 2021 / 21:35 WIB


Reporter: Abdul Basith Bardan | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekonom menilai vaksin tak bisa jadi satu-satunya instrumen yang diandalkan dalam menggenjot ekonomi di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Guna mencapai pertumbuhan ekonomi positif, Indonesia harus menggenjot kedua instrumen. Antara lain adalah instrumen fiskal dan instrumen penanganan kesehatan. Ketersediaan vaksin yang terbatas membuat vaksin tak bisa jadi tulang punggung dalam penanganan Covid-19. Pendisiplinan protokol kesehatan harus tetap dilakukan.

"Vaksinasi adalah salah satu bentuk intervensi tapi selain itu kan kita juga punya intervensi yang lain, intervensi dari sisi pembatasan, protokol kesehatan," ujar Ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (28/3).

Baca Juga: Antisipasi vaksin tertunda, pengusaha harap pemerintah lakukan lobi dengan produsen

Fithra menerangkan bahwa vaksinasi gotong royong dapat menjadi instrumen percepatan vaksinasi. Terutama pengadaan vaksin gotong royong dilakukan secara hubungan bisnis atau B2B.

Namun, suplai vaksin tetap ditentukan oleh produsen vaksin yang masih terbatas. Sehingga pengadaan oleh pelaku usaha tetap tak membuat vaksinasi dapat dipercepat. "Ini kan lebih ke permasalahan dari sisi suplai, jadi kita mau kejar yang B2B juga sangat terkait dengan ketersediaan vaksin di luar," terang Fithra.

Fithre juga menegaskan pentingnya sektor swasta dalam program vaksinasi. Tidak hanya dalam pelaksanaan vaksinasi gotong royong, swasta juga harus terlibat dalam upaya produksi vaksin Covid-19. "Yang juga penting kita lakukan adalah bagaimana swasta ini juga bisa berpartisipasi dalam proses produksinya," jelas Fithra.

Selanjutnya: Pengiriman vaksin AstraZeneca terkendala embargo di India, ini kata ekonom Indef

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×