kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   20.000   0,76%
  • USD/IDR 18.081   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.063   23,78   0,39%
  • KOMPAS100 794   5,39   0,68%
  • LQ45 603   3,91   0,65%
  • ISSI 210   -0,05   -0,03%
  • IDX30 341   2,14   0,63%
  • IDXHIDIV20 425   2,68   0,64%
  • IDX80 91   0,57   0,63%
  • IDXV30 116   0,35   0,30%
  • IDXQ30 109   0,64   0,58%

Ekonom sebut RAPBN-P 2016 masih kurang relevan


Kamis, 07 April 2016 / 22:22 WIB


Reporter: Muhammad Yazid | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Kalangan ekonom menilai asumsi makro dalam rancangan APBN perubahan masih kurang relevan dengan kondisi saat ini. Apalagi, pemerintah masih tetap berupaya untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3%.

Mohammad Faisal, ekonom CORE Indonesia mengatakan, penurunan target inflasi di RAPBN perubahan 2016 menjadi 4% dari sebelumnya 4,7% masih kurang ideal dengan kondisi sekarang. "Seharusnya saya pikir, inflasi masih asumsinya sebesar 5% pada akhir tahun 2016," kata dia, Kamis (7/4).

Menurut dia, target pertumbuhan ekonomi yang tetap ditargetkan 5,3% tampaknya cukup berat. Apalagi, pemerintah juga menyadari perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas tetap menghantui penerimaan negara.

Bahkan, pemerintah juga berencana memangkas belanja negara hingga sekitar Rp 50,6 triliun. "Dengan melihat perkembangan inflasi, perdagangan ekspor dan impor, belum ada sinyal yang kuat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 5,3%," kata dia.

Namun demikian, harapan ini masih tetap saja dengan implementasi paket kebijakan ekonomi yang mendapat respon positif yang dunia usaha. Jika itu terjadi, Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2%. "Target pajak juga rendah realisasinya, akibatnya akan ada belanja -belanja yang harus dipangkas," kata Faisal.

Berly Martawardaya, pengamat Ekonomi UI mengatakan, asumsi makro yang di rancangan APBN perumahan masih realistis dan berdasarkan kondisi ril. "Yang paling jauh ya harga minyak, tapi yang lain berbeda tipis saja," kata dia.

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang ditetap pun masih realistis meskipun penurunan harga minyak bakal menurunkan penerimaan negara. "Angka 5,3% masih realistis untuk batas atas, kalau pemerintah menetapkan 5,5%, baru tidak realistis," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×