kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45847,01   -7,82   -0.91%
  • EMAS922.000 0,55%
  • RD.SAHAM -0.15%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Ekonom sebut investasi & ekspor jadi motor penggerak ekonomi dalam jangka panjang


Senin, 28 Juni 2021 / 16:21 WIB
Ekonom sebut investasi & ekspor jadi motor penggerak ekonomi dalam jangka panjang
ILUSTRASI. Suasana bongkar muat di Jakarta International Container Terminal (JICT), Jakarta, Rabu (16/6). KoNTAN/Baihaki/16/6/2021

Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pertumbuhan ekonomi di kuartal III bisa tumbuh dengan adanya pergerakan ekspor dan Investasi. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira melihat adanya ekspor dan investasi bisa menjadi pertumbuhan ekonomi untuk jangka panjang.

Bhima menghimbau agar pemerintah bisa mengencangkan ekspor komoditas yang harganya sedang naik di pasaran khususnya komoditas pertambangan. Karena di sektor industri manufaktur pergerakan pertumbuhan ekonominya dilakukan untuk jangka panjang pasca pandemi Covid-19.

Sementara itu Bhima memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kuartal III akan ada di kisaran 1% sampai 2% dengan asumsi pemerintah lakukan kebijakan existing PPKM mikro.

Baca Juga: Soal PPN sembako dan sekolah, Sri Mulyani: Pemerintah beri fasilitas dan subsidi

Lebih lanjut, pemerintah juga harus mendorong Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) karena masih ada yang bolak-balik melakukan revisi dokumen untuk eksekusi anggarannya karena masih belum sesuai panduan. Hal tersebut juga yang akhirnya memperlambat pencairan dana di daerah.

“Kalaupun fiskal terbatas, lebih penting ada revisi anggaran yang diperuntukkan untuk menjaga daya beli penanganan pandemi dulu dan harus ada percepatan penerapan anggaran khususnya di daerah,” kata Bhima saat dihubungi Kontan.co.id (28/6).

Di sisi lain, motor pertumbuhan ekonomi 2021 memasuki kuartal III tidak bisa dengan mengandalkan belanja pemerintah. Bhima memproyeksikan sumbangan belanja pemerintah ke Produk Domestik Bruto PDB hanya sekitar 8% sampai 9%.

Alasannya belanja negara realisasinya masih rendah karena pemerintah mengantisipasi penurunan penerimaan pajak pada 2021.

Baca Juga: Ada 9.496 wajib pajak badan merugi yang bakal kena pajak 1%

"Padahal harusnya belanja pemerintah bisa diharapkan untuk pertumbuhan ekonomi namun di sisi lain pemerintah juga ingin segera mengendalikan defisittanggaran. Nah itu yang menjadi dilematis," kata Bhima.

Bhima menjelaskan jika di dalam negeri masih rendah daya belinya, permintaan domestiknya juga masih rendah karena Covid-19 dan adanya  kecenderungan serapan anggaran baru meningkat signifikan di kuartal IV, lebih baik pemerintah mengutamakan ekspor dan investasi untuk jangka panjang. 

Selanjutnya: Setoran PPN dari komoditas batubara capai hampir setengah triliun

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Rahasia Banjir Order dari Digital Marketing Sukses Berkomunikasi: Mempengaruhi Orang Lain Batch 3

[X]
×