Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI), Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan inflasi pada Januari 2026 secara tahunan masih berada pada level relatif tinggi, yakni sekitar 3,74% year on year (yoy).
Menurut Banjaran, tingginya inflasi tahunan tersebut terutama dipengaruhi oleh efek basis rendah (low base effect), mengingat inflasi Januari 2025 hanya tercatat 0,76% yoy karena adanya kebijakan subsidi pemerintah, khususnya diskon tarif listrik.
Sementara secara bulanan inflasi diprediksi melandai ke level 0,03% seiring normalisasi permintaan pasca libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) dan meredanya tekanan harga pangan)
"Koreksi harga bawang bombay dan cabai merah masing-masing sekitar 2,17% dan 15,07% turut menahan inflasi," ungkap Banjaran kepada Kontan, Minggu (1/2/2026).
Baca Juga: Inflasi Januari 2026 Diproyeksi Melonjak ke 3,59%, Tekanan Berlanjut Selama Kuartal I
Adapun komoditas pangan lainnya relatif terjaga sehingga tidak menimbulkan tekanan harga yang signifikan. Meski demikian, inflasi bulanan diperkirakan tetap berada di zona positif, dipengaruhi oleh penguatan harga emas global yang berpotensi meningkatkan andil emas perhiasan terhadap inflasi inti.
Memasuki kuartal I-2026, Banjaran menilai inflasi tahunan masih akan bertahan pada level tinggi. Kondisi tersebut kembali dipengaruhi oleh efek basis rendah, mengingat inflasi pada tiga bulan pertama 2025 tercatat sangat rendah.
"Pada saat yang sama, momentum Ramadhan dan Idulfitri berpotensi mendorong inflasi seiring perbaikan optimisme konsumen sejak akhir tahun 2025 yang kami perkirakan akan berlanjut," ungkap Banjaran.
Baca Juga: Inflasi Kuartal I-2026 Diproyeksi Naik Imbas Diskon Listrik dan Lonjakan Harga Emas
Peningkatan inflasi pada periode tersebut umumnya terjadi pada kenaikan konsumsi makanan dan minuman serta meningkatnya permintaan transportasi.
Sementara kontribusi emas terhadap inflasi pada kuartal I-2026 menurut Banjaran akan lebih ditentukan oleh pergerakan harga emas global sebagai faktor utama pembentuk harga domestik.
“Walaupun Idulfitri biasanya meningkatkan permintaan emas di dalam negeri, dampaknya relatif lebih terbatas dibandingkan pengaruh pergerakan harga emas global,” tutup Banjaran.
Baca Juga: Jelang Ramadan dan Lebaran, Pemerintah dan BI Jaga Inflasi Di Level 2,5±1% Tahun Ini
Selanjutnya: Danantara Kaji Porsi Kepemilikan Saham di BEI Pasca Demutualisasi
Menarik Dibaca: Hasil Thailand Masters 2026, Indonesia Borong 4 Gelar Juara
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













