kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   19.000   0,72%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Ekonom Indef sarankan pemerintah fokus pada KEK yang sudah ada


Minggu, 23 Februari 2020 / 23:00 WIB


Reporter: Lidya Yuniartha | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hingga saat ini sudah terdapat 15 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ditetapkan oleh pemerintah. KEK tersebut terdiri dari 9 KEK Industri dan 6 KEK Pariwisata.

Saat ini, Dewan Nasional KEK tengah mengevaluasi 3 usulan KEK sebelum direkomendasikan ke Presiden sebagai KEK. 3 usulan KEK tersebut antara lain KEK Nongsa Digital Park dan KEK Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di Batam serta KEK Ekonomi Kreatif di Yogyakarta.

Baca Juga: Dewan nasional KEK evaluasi 3 usulan KEK

Melihat ini, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adinegara berpendapat bahwa Indonesia tidak memerlukan banyak KEK. 

Dia berpendapat, agar pemerintah fokus pada KEK yang sudah ada, mengingat KEK yang ada belum terlalu berpengaruh pada ekonomi Indonesia.

“Menurut saya dibandingkan terlalu banyak KEK, KEK yang sudah ada dicari tahu kenapa tidak banyak investor yang masuk ke sana,” ujar Bhima kepada Kontan.co.id, Minggu (24/2).

Bhima menambahkan, ada KEK yang investornya hanya berasal satu perusahaan besar. Sehingga, menurut Bhima, investor ingin berinvestasi di suatu tempat bukan dikarenakan statusnya sebagai KEK, tetapi investasi didorong oleh adanya infrastruktur dan perizinan yang terpadu.




TERBARU

[X]
×