kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Ekonom Bank Permata: Tarif 19% AS Masih Menekan Neraca Dagang Indonesia


Rabu, 16 Juli 2025 / 15:10 WIB
Ekonom Bank Permata: Tarif 19% AS Masih Menekan Neraca Dagang Indonesia
ILUSTRASI. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc. Pengenaan tarif baru oleh AS terhadap produk ekspor Indonesia dinilai masih berpotensi menekan kinerja neraca dagang Indonesia


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengenaan tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap produk ekspor Indonesia dinilai masih berpotensi menekan kinerja neraca dagang Indonesia dalam jangka pendek maupun panjang.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyampaikan bahwa meskipun tarif impor AS terhadap produk Indonesia diturunkan dari 32% menjadi 19%, level tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan situasi sebelum konflik dagang (Trade War 2.0) meletus. Artinya, tekanan terhadap daya saing ekspor Indonesia, khususnya ke pasar AS, tetap signifikan.

Menurutnya, dampak langsung yang akan dirasakan adalah penurunan daya saing komoditas unggulan Indonesia seperti tekstil, sepatu, produk kayu, serta produk agrikultur tertentu yang selama ini menikmati akses pasar AS secara relatif baik.

Baca Juga: Kebijakan Tarif AS Berlaku 1 Agustus 2025, BI: Bikin Ekonomi Dunia Kacau

"Hal ini berpotensi menurunkan kinerja ekspor Indonesia secara keseluruhan, mempersempit surplus perdagangan bilateral, serta meningkatkan tekanan pada neraca perdagangan nasional,” kata Josua, Selasa (16/7).

Di sisi lain, pembebasan tarif untuk produk-produk asal AS yang masuk ke Indonesia juga menimbulkan risiko tersendiri bagi pasar domestik. Josua menilai jika industri dalam negeri belum siap bersaing secara terbuka, maka produk-produk AS yang unggul dari sisi harga, kualitas, dan teknologi bisa mendominasi pasar lokal. 

“Dalam skenario negatif, ini berpotensi memperlemah sektor manufaktur lokal, meningkatkan ketergantungan pada impor, dan memicu defisit neraca perdagangan serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” jelasnya.

Di tengah ketimpangan ini, keputusan pemerintah untuk tidak mengambil tindakan retaliasi (retaliatory measures) menjadi sinyal kuat tentang arah kebijakan luar negeri yang pragmatis. 

Kendati langkah ini bertujuan menjaga hubungan bilateral dan stabilitas pasar finansial domestik, hal tersebut menurut Josua, berpotensi menciptakan posisi tawar yang lebih rendah bagi Indonesia dalam perundingan perdagangan di masa mendatang.

Baca Juga: Tarif AS Turun, Pertamina Atur Rencana Impor Migas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×