kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.773.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.739   71,00   0,40%
  • IDX 6.162   67,10   1,10%
  • KOMPAS100 813   8,13   1,01%
  • LQ45 620   4,04   0,66%
  • ISSI 218   3,97   1,85%
  • IDX30 355   2,58   0,73%
  • IDXHIDIV20 437   -1,89   -0,43%
  • IDX80 94   1,08   1,17%
  • IDXV30 121   0,41   0,34%
  • IDXQ30 115   -0,63   -0,54%

Dunia Terancam Super El Nino, Indonesia Mulai Siapkan Langkah Darurat


Senin, 25 Mei 2026 / 04:20 WIB
Dunia Terancam Super El Nino, Indonesia Mulai Siapkan Langkah Darurat
ILUSTRASI. BMKG memprediksi El Nino lemah hingga moderat di semester II 2026. Ini periode kritis yang perlu diwaspadai dampaknya di Indonesia. (Dok/BMKG.go.id)


Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - Salah satu fenomena iklim skala besar bernama El Nino akan terjadi di Indonesia.

Dilansir dari World Health Organization (WHO), El Nino Southern Oscillation (ENSO) adalah fenomena iklim yang terjadi secara alami yang melibatkan fluktuasi suhu laut di Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur, ditambah dengan perubahan atmosfer di atasnya.

Dampak dari setiap peristiwa El Nino tergantung pada intensitas, durasi, waktu perkembangannya, dan interaksi dengan mode variabilitas iklim lainnya.

Di Asia Pasifik, curah hujan lebih rendah akan terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dengan kondisi lebih basah salah satunya di kepulauan Pasifik bagian timur-tengah.

El Nino memberikan sejumlah dampak terhadap wilayah yang mengalaminya. Pemerintah melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah melakukan upaya pencegahan dampak tersebut.

Lantas, apa saja upaya pencegahan dampak yang telah dilakukan?

Upaya pencegahan dampak El Nino 2026

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto menjelaskan dinamika atmosfer per April 2026 serta dampak historis El Nino terhadap berbagai sektor dan anomali iklim yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal itu disebabkan Indonesia tengah memasuki musim kemarau.

Berdasarkan rilis BMKG pada April 2026, kondisi iklim global masih berada pada fase ENSO netral hingga pertengahan tahun 2026.

Sementara itu, hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat.

Baca Juga: Pelemahan Rupiah Mulai Tekan Industri Pengolahan, Waspada Berefek ke Ekonomi RI

“Hasil analisis BMKG pada akhir Maret 2026 menunjukkan adanya kecenderungan transisi menuju fase El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat pada semester II tahun 2026, dengan peluang berkisar antara 50 hingga 80 persen. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi musim kemarau 2026 yang diprediksi datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal,” jelas Guswanto, dilansir dari laman BMKG, Rabu (15/4/2026).

Wakapolri, Dedi Prasetyo, mengatakan penting untuk melakukan kolaborasi lintas sektor guna menghadapi potensi karhutla tersebut.

“Kami meminta seluruh jajaran di daerah menjalin kerja sama dengan instansi terkait. Libatkan semua elemen, mulai dari dinas, relawan, hingga akademisi, untuk memperkuat penanganan di lapangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, BMKG bersama Kementerian Kehutanan juga turut bekerja sama mengantisipasi dampak El Nino.

Salah satu strategi utama yang disepakati adalah optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Operasi tersebut telah berlangsung di Riau dan Kalimantan Barat.

"Mencegah itu jauh lebih baik daripada mengobati. Mencegah karhutla jauh lebih baik daripada memadamkan api. Kita terus pantau tinggi muka air tanah, terutama di lahan gambut. Jika sudah di bawah 40 cm, kita segera lakukan OMC untuk re-wetting atau pembasahan kembali guna menjaga cadangan air tanah," kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, dilansir dari laman resmi Kemenhut, Rabu (22/4/2026).

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan langkah tersebut berfokus pada upaya preventif (pencegahan) ketimbang kuratif (pemadaman), dengan prediksi kemarau yang datang lebih cepat dan berakhir lebih lambat.

Kemudian, selain integrasi data, BMKG juga berkoordinasi dengan Kemenhut untuk memasang Aloptama (Alat Operasional Utama) dan sensor-sensor meteorologi penting di area kawasan hutan.

Penambahan sensor ini bertujuan untuk meningkatkan akurasi dan keandalan data iklim nasional.

Baca Juga: Di Tengah Ancaman Pesisir, Kelestarian Ekosistem Laut Semakin Jadi Sorotan

Tabel: Dampak dan Langkah Antisipasi El Nino 2026

Dampak Potensial Langkah Antisipasi
Kemarau lebih panjang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC)
Risiko karhutla meningkat Pemantauan lahan gambut
Penurunan curah hujan Integrasi data BMKG-Kemenhut
Kekeringan lahan Re-wetting/pembasahan lahan
Anomali iklim Pemasangan sensor meteorologi




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×