Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah mulai memberi tekanan terhadap sektor manufaktur nasional.
Pasalnya, industri pengolahan di Indonesia masih sangat bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia (CORE Indonesia) Yusuf Rendy Manilet menyebut, pelemahan rupiah yang berlangsung cukup panjang menjadi perhatian serius karena sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Baca Juga: Rupiah Melemah Tekan Industri Manufaktur, Pertumbuhan Ekonomi RI Berisiko Melambat
Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) berada di level 99,23 pada Jumat (22/5/2026). Sementara itu, rupiah di pasar spot melemah ke posisi Rp 17.717 per dolar AS.
“Ketika industri pengolahan mulai tertekan, dampaknya akan langsung terasa terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan,” ujar Yusuf kepada Kontan, Minggu (24/5).
Yusuf mencatat, secara tahunan rupiah telah melemah sekitar 9%, sedangkan secara year to date (YtD) depresiasinya mendekati 6%.
Menurut dia, tekanan terhadap sektor manufaktur sebenarnya sudah mulai terlihat dari sejumlah indikator ekonomi.
Baca Juga: Di Tengah Ancaman Pesisir, Kelestarian Ekosistem Laut Semakin Jadi Sorotan
Meski pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 tercatat 5,61% secara tahunan (year on year/YoY), Yusuf menilai capaian tersebut perlu dicermati lebih dalam.
Ia menilai pertumbuhan tersebut lebih banyak ditopang oleh faktor basis pembanding yang rendah pada tahun sebelumnya, momentum Ramadan, serta percepatan belanja pemerintah.
“Kalau dilihat secara kuartalan, ekonomi justru mengalami kontraksi sekitar 0,77%,” katanya.
Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur global juga turun ke level 49,1 pada April 2026 atau sudah berada di zona kontraksi.
Yusuf menilai kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap sektor riil sebenarnya sudah muncul bahkan sebelum rupiah melemah lebih dalam.
“Persoalannya bukan semata-mata kurs yang melemah, melainkan kurs memperberat tekanan yang memang sudah lebih dulu muncul di sektor riil,” jelasnya.
Baca Juga: Kebijakan DHE SDA Belum Cukup Kuat Bawa Rupiah ke Level Rp 15.000
Yusuf memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini masih dapat berada di sekitar 5% YoY.
Namun, akan sulit bergerak lebih tinggi apabila tekanan kurs dan biaya energi belum mereda.
Ia menjelaskan, masalah utama manufaktur Indonesia terletak pada tingginya ketergantungan terhadap impor bahan baku dan barang modal.
Ketika rupiah melemah, biaya produksi otomatis meningkat dalam denominasi rupiah meskipun volume impor tidak berubah.
Menurut Yusuf, dampak paling cepat biasanya terlihat pada keputusan investasi. Pelaku usaha cenderung menunda ekspansi ketika pergerakan nilai tukar terlalu fluktuatif karena sebagian besar belanja modal, termasuk pembelian mesin dan pembangunan fasilitas baru, masih berbasis dolar AS.
Baca Juga: Jemaah Haji Diminta Siapkan Fisik Hadapi Jalan Kaki Hingga 7 Km per Hari di Mina
“Yang perlu diperhatikan justru keputusan investasi baru beberapa bulan ke depan. Di situlah efek pelemahan biasanya mulai terlihat lebih nyata,” ujarnya.
Meski investasi manufaktur pada kuartal I-2026 masih tercatat besar, yakni sekitar Rp 418 triliun, Yusuf menilai angka tersebut lebih mencerminkan kelanjutan proyek lama yang sudah berjalan sebelum tekanan kurs meningkat.
Selain investasi, Yusuf juga mengingatkan dampak pelemahan rupiah terhadap inflasi. Menurut dia, kenaikan biaya impor biasanya akan diteruskan ke harga jual dalam dua hingga tiga kuartal berikutnya.
Namun, di tengah daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, produsen menghadapi dilema antara menaikkan harga atau mempertahankan margin keuntungan.
“Jika harga dinaikkan, risiko kehilangan permintaan pasar akan membesar. Tetapi jika harga ditahan, margin keuntungan akan semakin tertekan,” katanya.
Baca Juga: Kepala BP BUMN Angkat Bicara Soal Kasus Pengambilan Getah Karet PTPN
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% guna menjaga stabilitas rupiah.
Menurut Yusuf, langkah tersebut memang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Namun di sisi lain, kebijakan itu membuat biaya kredit menjadi lebih mahal bagi dunia usaha.
“Jadi industri menghadapi tekanan ganda secara bersamaan. Di satu sisi biaya impor meningkat karena pelemahan kurs, sementara di sisi lain biaya pembiayaan juga menjadi lebih mahal akibat kenaikan suku bunga,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













