kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.664.000   -36.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

DPR tanyakan kelanjutan nasib Freeport usai 2021


Kamis, 15 Januari 2015 / 16:41 WIB
ILUSTRASI. Keuangan syariah.


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempertanyakan nasib PT Freeport Indonesia pasca berakhirnya kontrak karya pada tahun 2021 nanti. Pertanyaan itu disampaikan sejumlah anggota Komisi VII dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), M. Sukhyar.

Anggota Komisi VII DPR Fraksi Partai Hanura Dewi Yasin Limpo mengatakan, masyarakat Papua berharap tidak ada perpanjang kontrak jika Freeport tidak membangun smelter di tanah Papua. "Freeport sudah diberi kemudahan oleh pemerintah untuk bisa melakukan ekspor konsentrat tembaga. Padahal ada jenis mineral olahan lain seperti bauksit yang tidak bisa ekspor sejak 2014 kemarin," katanya,  Kamis (15/1).

Dia bilang, sejumlah pelaku usaha bauksit terpaksa menutup usahanya akibat kebijakan larangan ekspor tersebut. "Kami melihat ada diskrimasi perlakuan terhadap satu jenis mineral dengan mineral lain," ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, sesi tanya jawab masih berlangsung. Hadir dalam rapat ini antara lain Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM R. Sukhyar beserta jajarannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×