kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.713.000   -20.000   -0,73%
  • USD/IDR 17.959   -71,00   -0,39%
  • IDX 5.900   153,62   2,67%
  • KOMPAS100 781   21,26   2,80%
  • LQ45 588   18,41   3,23%
  • ISSI 202   4,77   2,42%
  • IDX30 334   11,26   3,49%
  • IDXHIDIV20 412   13,59   3,41%
  • IDX80 88   2,11   2,45%
  • IDXV30 111   2,38   2,19%
  • IDXQ30 107   3,28   3,16%

DPR: Kenaikan BBM Pertamax Akan Berimbas ke Inflasi, Tunggu Stimulus dari Pemerintah


Rabu, 10 Juni 2026 / 14:51 WIB
DPR: Kenaikan BBM Pertamax Akan Berimbas ke Inflasi, Tunggu Stimulus dari Pemerintah
ILUSTRASI. Pertamina baru saja menaikkan harga BBM jenis Pertamax dan Pertamax Green mulai Rabu (10/6/2026), dengan kenaikan sekitar Rp 4.000 per liter


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Ketua Komisi XI DPR RI Mukhammad Misbakhun menyatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax berpotensi mendorong kenaikan inflasi. Meski demikian, pemerintah disebut tengah mengkaji berbagai stimulus dan insentif untuk memitigasi dampaknya terhadap masyarakat.

Misbakhun mengatakan, secara historis setiap kenaikan harga BBM akan memberikan tekanan terhadap inflasi. Namun, besaran dampaknya masih perlu dihitung lebih lanjut.

"Pasti kalau kenaikan BBM biasanya selalu akan diikuti dengan kenaikan inflasi. Berapa persennya, 0 sekian persen itu kita belum tahu," ujar Misbakhun kepada awak media di Gedung Palemen DPR RI, Rabu (10/6/2026).

Baca Juga: Praktik Pecah Usaha UMKM Berpotensi Gerus Penerimaan Negara Rp 24 Triliun

Menurut dia, tekanan inflasi dari kenaikan Pertamax diperkirakan berbeda dengan kenaikan BBM industri yang selama ini dinilai memiliki dampak lebih besar terhadap biaya produksi dan harga barang.

"Karena Pertamax ini lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat. Bukan BBM industri yang biasanya memberikan tekanan yang paling berat," katanya.

Ia juga mengakui terdapat kemungkinan sebagian pengguna Pertamax akan beralih menggunakan Pertalite setelah adanya penyesuaian harga.

"Pasti, orang kan begitu harga naik, orang akan mencari harga yang paling rendah," ujarnya.

Meski demikian, pemerintah masih melakukan penghitungan lebih mendalam mengenai potensi perpindahan konsumsi tersebut beserta dampaknya terhadap inflasi dan perekonomian secara keseluruhan.

"Untuk kalkulasinya belum kita lakukan exercise yang lebih dalam. Sudah dilakukan penghitungan-penghitungan, nanti akan kita lihat impact-nya seperti apa," jelasnya.

Baca Juga: Posisi Kewajiban Neto Investasi Internasional Indonesia Turun Jadi US$ 227,6 Miliar

Misbakhun mengungkapkan pemerintah sebelumnya sempat menunda penyesuaian harga Pertamax, sementara harga Pertamax Plus dan Pertamax Turbo telah lebih dulu mengalami kenaikan. Kini, penyesuaian harga Pertamax mulai dilakukan.

Terkait langkah antisipasi pemerintah apabila kenaikan harga BBM memicu inflasi, Misbakhun mengatakan pembahasan mengenai stimulus sudah dilakukan dan saat ini masih dalam tahap perumusan.

"Itu sedang dirumuskan. Tadi kita diskusinya di sana," katanya.

Ia menambahkan, pemerintah saat ini tengah menghitung bentuk stimulus maupun insentif sektoral yang paling tepat untuk diberikan kepada masyarakat yang terdampak.

Baca Juga: Survei BI: Ekspektasi soal Lapangan Kerja dan Usaha Naik, Penghasilan Justru Melandai

"Sudah didiskusikan, sedang lagi dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor. Yang pasti biasanya masyarakat yang menggunakan Pertamax itu kan masyarakat-masyarakat yang berimpitan dengan Pertalite. Nah kita ingin pastikan apa sih yang mereka butuhkan sebagai stimulus," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×