kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   -20.000   -0,75%
  • USD/IDR 18.125   38,00   0,21%
  • IDX 6.038   113,48   1,92%
  • KOMPAS100 788   17,25   2,24%
  • LQ45 602   13,12   2,23%
  • ISSI 207   3,32   1,63%
  • IDX30 341   7,10   2,13%
  • IDXHIDIV20 423   9,63   2,33%
  • IDX80 90   2,01   2,29%
  • IDXV30 114   2,10   1,87%
  • IDXQ30 109   1,94   1,81%

Ditjen Pajak ingin wewenang pecat pegawai


Minggu, 18 Mei 2014 / 13:30 WIB
ILUSTRASI. Reaksi LeBron hingga Neymar atas kemenangan Argentina dan Lionel Messi angkat trofi Piala Dunia


Reporter: Syarifah Nur Aida | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Perlakuan khusus yang dituntut Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terbagi atas setidaknya tiga poin krusial: yakni organisasi, sumber daya manusia (SDM), dan anggaran. Khusus untuk SDM, Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Fuad Rahmany menyebut DJP harus punya wewenang penting untuk memberhentikan pegawai. "Kalau pegawai tidak berkinerja dengan baik di pajak, bisa dipecat," paparnya di DJP, Jumat (16/5).

Sebagai revenue center atau pusat penerimaan negara, Fuad menyebut DJP semestinya tidak dilimpahi aturan yang berlaku umum untuk instansi lain. Sebab, tugas yang diemban DJP tidaklah mudah, yakni sebagai penentuan pembiayaan negara. Di 2013, penerimaan pajak untuk APBN-P mencapai 76%. Dari total tersebut, sumbangan DJP mencapai 66%, sedangkan 10% sisanya di dapat dari cukai.

Penerimaan pajak pada pekan kedua Mei 2014 sudah menyentuh angka 30% dari target sebesar Rp 1.110,2 triliun. DJP kini tengah menggenjot penerimaan dengan memeriksa ribuan wajib pajak di beberapa sektor seperti properti dan pajak orang pribadi. "Itu pemeriksaan rutin saja, semua sektor, tak ada yang khusus" tambah Fuad.

Selain soal wewenang perencanaan SDM dari proses rekrutmen hingga pemberhentian pegawai, Kepala Subbagian Organisasi Sekretariat DJP Bora Darusalam menyebut DJP harus mampu melaksanakan assessment pegawai. Kemampuan tersebut terkait presisi dalam penilaian kerja dan pengembangan karir pegawai.

Soal anggaran, Bora menilai DJP harus memiliki keleluasaan khusus sesuai proses kinerja, tidak dibatasi aturan umum yang berlaku di instansi lain. Termasuk dalam kewenangan tersebut, adalah sistem insentif dan kompensasi bagi pegawai. "Pemberian kompensasi pegawai tentu disesuaikan dengan kondisi wilayah kerja," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×