Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah mengklaim minat investor terhadap Surat Berharga Negara (SBN) masih tinggi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengatakan sebagian besar pembiayaan utang pemerintah masih didukung oleh pendanaan dari pasar SBN domestik dengan tingkat permintaan yang tetap kuat.
Hal ini tercermin dari rasio bid to cover dalam lelang SBN yang masih terjaga tinggi. Untuk Surat Utang Negara (SUN), rasio bid to cover tercatat berada di atas 2 kali. Sementara untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) mencapai sekitar 3,1 kali. “Bahkan dibandingkan dengan tahun lalu, tahun ini lebih baik,” ujar Juda dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026, Rabu (11/3/2026).
Baca Juga: Prabowo Heran Ada Aturan Anak Usaha BUMN Tidak Boleh Diaudit
Menurut Juda, tingginya permintaan tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap fundamental perekonomian Indonesia masih terjaga meskipun kondisi pasar keuangan global tengah diliputi ketidakpastian.
Dari sisi investor asing, minat terhadap SBN juga tercatat masih kuat. Rasio bid to cover untuk SUN oleh investor asing mencapai sekitar 2,4 kali, sedangkan untuk SBSN sekitar 2,8 kali. Angka tersebut meningkat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Selain mengandalkan pasar domestik, pemerintah juga menerbitkan SBN di pasar global pada Februari 2026 melalui skema dual currency. Dalam penerbitan tersebut, pemerintah menerbitkan obligasi dalam mata uang offshore renminbi (CNH) senilai 9,25 miliar dengan tingkat imbal hasil sekitar 2%–3%.
Pemerintah juga menerbitkan obligasi dalam denominasi euro senilai 2,7 miliar euro dengan yield sekitar 4%–5%. Menurut Juda, tingkat imbal hasil tersebut mencerminkan tingginya kepercayaan investor global terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Meski demikian, ia mengakui perkembangan pasar SBN saat ini masih dipengaruhi oleh dinamika global yang cukup volatil. Secara year to date, yield SBN tercatat naik sekitar 55 basis poin sehingga mendorong pelebaran spread SBN terhadap US Treasury.
Per 6 Maret 2026, spread SBN tenor 10 tahun terhadap US Treasury tercatat sekitar 243 basis poin. Meski demikian, Purbaya menilai spread tersebut masih relatif rendah dibandingkan negara-negara selevel (peers country). “Ini mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia masih dinilai baik oleh investor,” jelasnya.
Pemerintah kata Juda, bersama Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan otoritas terkait akan terus memantau perkembangan pasar untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.
Baca Juga: Wacana Layer Baru Cukai Rokok Dinilai Perlu Diimbangi Penegakan Hukum
Adapun sampai akhir Februari 2026, pemerintah sudah menarik utang baru sebesar Rp 185,3 triliun melalui penerbitan SBN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












