kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Dengan perencanaan pensiun yang tepat, hari tua terasa nikmat


Senin, 19 Agustus 2019 / 04:35 WIB
Dengan perencanaan pensiun yang tepat, hari tua terasa nikmat
ILUSTRASI. HARI LANJUT USIA NASIONAL

Reporter: Ferrika Sari, Maizal Walfajri | Editor: Ahmad Febrian

Dengan asumsi risiko bebas investasi (risk free investment) saat ini sekitar 6%, maka dana yang perlu dimiliki saat awal pensiun adalah sebesar 200 kali lipat biaya hidup di masa pensiun. Dari situ kemudian dihitung berapa investasi yang diperlukan untuk mencapai target tersebut.

Misalnya saja investasi dimulai sejak usia 30 tahun, maka porsi investasi sebanyak 12% dari penghasilan dengan return 10% - 12% per tahun secara konsisten.

Ambil contoh A bergaji Rp 20 juta dan dia harus menabung di DPLK sebanyak 12% dari gaji atau setara  Rp 2,4 juta. Jika diinvestasi secara rutin tiap bulan selama 25 tahun dengan return 10% per tahun maka hasilnya adalah Rp 3,1 miliar.

Dengan return 12% per tahun, maka hasilnya adalah 4,5 miliar. Dari jumlah Rp 3,1 miliar jika diinvestasikan ke obligasi atau deposito maka hasil bulanan sekitar 16 juta.

Di masa pensiun, masukkan dana ini ke obligasi atau deposito. Maka hasilnya adalah Rp 16 juta – Rp 22 juta per bulan atau setara dengan gaji sekarang. Kalaupun hasilnya di bawah 10%, di saat pensiun masih bisa menikmati penghasilan belasan juta sebulan.

Memasuki masa pensiun juga dibarengi penyesuaian gaya hidup dengan mengurangi konsumsi dan biaya transportasi. Penyesuaian gaya hidup, terutama konsumsi dan tempat tinggal bukan hanya melihat faktor biaya, tapi juga kesehatan.

Untuk menjaga kesehatan di masa pensiun, sebaiknya tetap miliki aktivitas rutin agar tidak mudah stres dan sakit-sakitan. Bisa melakukan aktivitas sosial, keagamaan atau hobi.

Nah, mari kita kupas jalur kedua. Jika ingin berbisnis, Gozali menyarankan paling lambat lima tahun sebelum pensiun. Bisa mulai dengan investasi pada usaha teman, atau mempelajari peluang usaha dan tekuni hobi tertentu yang bisa dikembangkan menjadi usaha.

Jika Anda aparatur Sipil Negara (ASN), PT Taspen (Persero) telah menyiakan program Wirausaha Pintar. Tujuannya agar saat pensiun, para lansia bisa tetap hidup mandiri secara finansial dan mengurangi risiko penurunan kesehatan fisik dan mental sebab masih produktif di waktu senja.

Manajer Humas Taspen Anne Roosfianti menyebut program ini terdiri dari seminar dan talkshow yang menghadirkan narasumber dari pensiunan ASN yang telah memiliki usaha, narasumber dari e-commerce dan franchise serta financial planner.  Target ASN adalah yang akan pensiun dua tahun sampai tiga tahun ke depan.

Sudah ada 8.900 ASN yang mengikuti sosialisasi Wirausaha Pintar. Taspen menargetkan, sampai di pengujung tahun ada 13.000 ASN yang mengikuti program ini. 
Tak hanya memotivasi, bagi calon pensiun yang mengikuti kegiatan ini lalu membuat atau sudah mempunyai usaha nanti diberikan pinjaman modal.

"Syaratnya usaha sudah berjalan minimal enam bulan,” ujar Anne beberapa waktu lalu. Nah, jika sudah begini, para lansia tak akan menjadi beban. Dan  tetap bersinar terang walau di saat senja.




TERBARU

Close [X]
×