Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Noverius Laoli
Dengan pola belanja yang cenderung front-loaded dan penerimaan negara yang belum kuat, ruang fiskal dinilai cepat tergerus sejak awal tahun.
Ia menilai struktur fiskal saat ini masih bertumpu pada instrumen jangka pendek seperti optimalisasi pembiayaan, penggunaan Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan pengaturan waktu belanja.
Sementara itu, tekanan eksternal datang dari kenaikan harga minyak, depresiasi rupiah, dan meningkatnya yield Surat Berharga Negara (SBN) yang mendorong biaya utang lebih mahal.
Baca Juga: Jaga Defisit di Bawah 3%, IMF Sarankan RI Naikkan Tarif Pajak Karyawan Bertahap
“Kombinasi ini menekan subsidi energi dan biaya utang sekaligus, sehingga mempersempit ruang fiskal riil,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, Rizal menilai target defisit hanya dapat terjaga jika seluruh asumsi berjalan ideal: harga minyak terkendali, disiplin belanja terjaga, dan penerimaan pajak mampu meningkat di tengah pelemahan daya beli.
Tanpa itu, batas defisit 3% berisiko menjadi sekadar angka administratif.
Ia mendorong pemerintah bersikap realistis dengan membuka opsi penyesuaian fiskal, termasuk APBN Perubahan (APBN-P), jika tekanan global berlanjut.
Menurutnya, kredibilitas fiskal lebih ditentukan oleh konsistensi kebijakan dibanding sekadar mempertahankan batas defisit secara nominal.
Baca Juga: Defisit Anggaran di Atas Batas Aman Tahun Depan
Pada akhirnya, ukuran kesehatan fiskal tidak hanya terletak pada angka defisit, tetapi pada dampaknya terhadap ekonomi riil, mulai dari penguatan permintaan domestik, peningkatan sektor produktif, penciptaan lapangan kerja, hingga pengelolaan utang yang berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













