kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Danareksa memprediksi neraca dagang defisit US$ 240,4 juta di Januari 2020


Kamis, 13 Februari 2020 / 22:17 WIB
Danareksa memprediksi neraca dagang defisit US$ 240,4 juta di Januari 2020
ILUSTRASI. Danareksa Research Institute (DRI) memprediksi akan terjadi defisit neraca dagang pada Januari 2020. KONTAN/Baihaki/3/1/2020

Reporter: Bidara Pink | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Danareksa Research Institute (DRI) memprediksi akan terjadi defisit neraca dagang pada Januari 2020. Menurut DRI, defisit akan sebesar US$ 240,4 juta. Defisit ini salah satunya disebabkan oleh masih lemahnya permintaan dari negara-negara mitra dagang Indonesia.

"Lemahnya permintaan dari negara mitra disebabkan oleh negara-negara yang masih mengalami penurunan indikator ekonomi atau Leading Economic Indicator (LEI)," terang DRI dalam keterangan resminya, Kamis (13/2).

Baca Juga: Ekonom BCA memprediksi neraca dagang defisit US$ 127 juta pada Januari 2020

Penurunan LEI ini terlihat dari rata-rata LEI yang terkontraksi 0,5% mom pada November 2019. Tentu saja ini dipengaruhi oleh LEI negara-negara, seperti contohnya penurunan LEI juga terlihat di negara China yang turun 2,7% mom serta Jepang yang juga turun 0,9% mom.

Sementara itu, Amerika Serikat (AS) masih mengalami peningkatan LEI sebesar 2,4% mom. Secara terperinci, DRI memprediksi ekspor pada Desember 2019 akan sebesar US$ 13,54 miliar dan impor akan sebesar US$ 13,78 miliar.

DRI memprediksi kinerja ekspor ditopang oleh beberapa harga komoditas Indonesia yang meningkat sekitar 4,1% mom di Desember, sementara pada bulan sebelumnya hanya tercatat 3,2% mom. Ini tentunya juga memberi andil dalam kinerja ekspor di awal tahun 2020.

"Dengan adanya peningkatan harga komoditas, ini mendorong kinerja ekspor Indonesia. Hanya saja, ada faktor yang juga mempengaruhi kinerja secara bulanan, yaitu berkurangnya waktu kerja akibat festival tahun baru Imlek," tambah DRI.

Baca Juga: Duh, virus corona bisa menggerus pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 0,3%

Sementara di sisi dalam negeri, DRI melihat bahwa stabilnya nilai tukar rupiah di tengah harga minyak yang meningkat masih mampu mengendalikan nilai impor kita. Selain itu, penurunan impor juga datang dari sisi aktivitas manufaktur yang masih terkontraksi.

Ini terlihat dari indeks manufaktur PMI Indonesia yang turun menjadi 49,3 di awal tahun 2020, dari sebelumnya yang sebesar 49,5 di Desember 2019. Ini disebabkan oleh menurunnya permintaan, berkurangnya penjualan, dan berkurangnya aktivitas pembelian.




TERBARU

Close [X]
×