Sumber: Kompas.com | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Holding Operasional Danantara secara terbuka menyatakan akan membatasi porsi injeksi modal untuk penyelamatan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada 2026. Danantara kini mengalihkan strategi ke penciptaan nilai tambah bagi perusahaan pelat merah dan perekonomian nasional.
Managing Director Business 3 Danantara, Febriany Eddy, mengatakan pada fase awal pembentukan Danantara, porsi terbesar kebijakan memang diarahkan pada penyelamatan dan penyehatan BUMN yang mengalami tekanan kinerja.
Namun pendekatan tersebut tidak bisa terus-menerus menjadi strategi utama. Ia menilai, jika Danantara terus berada pada pola penyelamatan, maka ruang untuk menciptakan nilai tambah bagi BUMN dan perekonomian nasional justru tidak akan pernah tercapai.
Baca Juga: Kolaborasi Danantara dan BKPM Incar Investor Asing, Begini Cara Mereka Berbagi Peran
“Yang saya ingin tekankan itu, mungkin porsi yang penyelamatan akan lebih sedikit ya. Karena menurut saya sama Pak Dony, ‘Pak ini kayaknya kalau kayak gini, terus kapan kita creating value-nya,” ujar Febriany saat menjadi pembicara dalam acara Semangat Awal Tahun 2026 yang digelar IDN Times, Rabu (14/1/2026),
“Jadi porsi itu memang akan lebih, sekarang sudah, ya saya ngerasa naik kelas lah. Tahun lalu tuh majority yang gitu-gitulah. Nyelamatin, menyehatkan,” paparnya.
Pada periode berjalan, Danantara mulai mengurangi porsi penyelamatan dan beralih ke tahap yang lebih maju. Febriany menyebut, Danantara kini memasuki fase “naik kelas”, di mana fokus tidak lagi sekadar menormalkan kondisi keuangan perusahaan pelat merah, tetapi mendorong penciptaan nilai melalui ekspansi bisnis, peningkatan daya saing, dan penguatan fundamental jangka panjang.
“Sekarang harusnya sudah berkurang yang sifatnya penyelamatan. Kami masuk ke value creation, seperti ekspansi dan hilirisasi. Banyak proyek hilirisasi yang harus dijalankan tahun ini. Harapannya, 2027 akan berbeda lagi, kita benar-benar tumbuh,” beber Febriany.
Selain strategi investasi, Danantara juga menyiapkan langkah restrukturisasi besar-besaran terhadap BUMN. Jumlah perusahaan pelat merah yang sebelumnya mencapai lebih dari 1.000 entitas ditargetkan dipangkas menjadi sekitar 200 perusahaan.
Skemanya mencakup merger hingga likuidasi bagi BUMN dengan kondisi keuangan yang dinilai sangat tidak sehat.
Baca Juga: Danantara Cari Mitra Global dan Co-Investments di World Economic Forum Davos
Opsi privatisasi juga dibuka bagi BUMN yang secara finansial lemah, tetapi masih memiliki potensi nilai bagi investor.
“Kalau misalnya ada orang mau, dia bisa monetize lebih baik, ya jual. Jadi ada banyak caralah, gitu. Yang jelas itu target yang sangat ambisius,” ucap Febriany.
Sebagai catatan, Danantara sebelumnya telah menggelontorkan injeksi modal kepada sejumlah BUMN. Salah satunya kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) senilai Rp 23 triliun, yang terdiri atas pinjaman pemegang saham (shareholder loan) Rp6,65 triliun dan modal tunai Rp17 triliun.
Lalu, PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) senilai Rp 4,93 triliun dalam bentuk shareholder loan. Terbaru, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) senilai Rp 846 miliar dalam bentuk shareholder loan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari fase awal Danantara dalam menstabilkan BUMN sebelum beralih ke agenda penciptaan nilai.
Selanjutnya: Nasib Greenland: Trump Desak AS Ambil Alih, Denmark dan NATO Melawan
Menarik Dibaca: Hujan Petir di Sore Hari, Cek Prakiraan BMKG Cuaca Besok (15/1) di Jakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_17122515210200.jpg)
