kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.010,68   -0,95   -0.09%
  • EMAS957.000 -0,52%
  • RD.SAHAM -1.07%
  • RD.CAMPURAN -0.35%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.08%

Cegah Keparahan Jika Kena Covid-19, Vaksinasi Bagi Orang dengan Komorbid Didorong


Selasa, 15 Februari 2022 / 19:28 WIB
Cegah Keparahan Jika Kena Covid-19, Vaksinasi Bagi Orang dengan Komorbid Didorong
ILUSTRASI. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus mewaspadai penularan Covid-19 di masyarakat. 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan terdapat beberapa faktor yang dapat memperparah kondisi seseorang saat terpapar Covid-19. Di antaranya faktor usia, riwayat vaksinasi serta riwayat komorbid atau penyakit penyerta.

Oleh karenanya Wiku menegaskan masyarakat perlu lebih waspada terhadap orang-orang dengan faktor risiko agar jangan sampai tertular Covid-19.

"Jika Anda atau orang terdekat Anda terdeteksi positif covid-19 dan di waktu yang bersamaan memiliki satu bahkan lebih penyakit penyerta, maka risiko untuk membutuhkan perawatan inap maupun rawat intensif di rumah sakit hingga membutuhkan ventilator akibat perkembangan gejala yang berat dan ancaman kematian akan lebih besar," jelas Wiku dalam konferensi pers virtual, Selasa (15/2).

Berdasarkan data dan fakta tren kasus Covid-19 secara nasional, kasus meninggal mayoritas berasal dari komorbid diabetes melitus. Kemudian gejala berat dan kritis mayoritas berada dari komorbid diabetes melitus dan hipertensi.

Baca Juga: Berapa Lama Vaksin Booster Mencegah Covid-19 Omicron? Cek Juga Efek Samping Vaksinasi

Menurut CDC tahun 2022 jenis penyakit komorbid yang berpotensi meningkatkan perburukan kasus Covid-19 ialah, gangguan ginjal, hati, paru-paru yang kronis, gangguan neurologis, diabetes melitus tipe 1 dan 2, gangguan jantung dan pembuluh darah, infeksi HIV, gangguan sistem kekebalan tubuh, obesitas, thalasemia dan beberapa gangguan kesehatan lainnya.

Wiku memaparkan, berdasarkan data yang diakses dari rumah sakit online tanggal 13 Februari 2022 tercatat bahwa mayoritas kasus positif yang meninggal dikontribusikan oleh komorbid diabetes melitus dan 15% di antaranya bahkan memiliki riwayat komorbid lebih dari satu jenis penyakit.

Kemudian, menurut studi di salah satu rumah sakit di India lebih dari 90% pasien dengan lebih dari 2 jenis komorbid meninggal dunia dibandingkan kasus positif yang memiliki satu komorbid.

"Kedua, mayoritas kasus positif yang mengalami gejala berat atau kritis memiliki komorbid diabetes melitus dan hipertensi dan 19% dari mayoritas tersebut bahkan memiliki lebih dari satu jenis penyakit," ungkapnya.

Oleh karenanya pemerintah menghimbau bagi masyarakat baik penderita komorbid atau orang disekitarnya wajib berperan untuk melaporkan kasus positif pada kelompok rentan agar dapat ditangani secara dini. 

Serta bagi kasus positif dengan komorbid, orang di sekitarnya diminta untuk segera menghubungi tenaga kesehatan walaupun gejala yang dirasakan tergolong ringan.

Siti Nadia Tarmizi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan mengatakan, mayoritas kasus kematian di Indonesia merupakan pasien yang belum mendapatkan vaksin serta memiliki komorbid.

Baca Juga: Kasus Covid-19 13 Februari 2022 Muncul 44.526, Ini Aturan & Syarat Isolasi Mandiri

"Itu karena belum divaksin dan komorbid. Jumah absolut tetap akan ada karena proporsi yang sakit berat dan kematian pasti tetap ada," kata Nadia.

Senada dengan Nadia, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan, Dari 111 kasus kematian pada 13 Februari lalu sebanyak 60% kasus kematian merupakan mereka yang belum mendapatkan vaksinasi dua dosis ataupun belum sama sekali di vaksin. 

Begitu juga dengan pasien yang harus dirawat di ICU 60% belum mendapatkan vaksinasi dua dosis atau bahkan belum mendapatkan vaksin sama sekali.

"Jadi tolong bantu saudara-saudara kita agar segera divaksinasi. Karena 60% yang wafat itu belum divaksinasi atau vaksinasi belum lengkap. 60% yang masuk ke ICU itu belum vaksinasi atau vaksinasi lengkap. Oleh karena itu tolong didorong vaksinasi lengkapnya," jelasnya.

Namun Budi menyebut angka kematian masih di bawah saat gelombang delta tahun lalu. Dimana saat gelombang delta lalu puncak kasus kematian pernah menyentuh angka 2.069 kasus.

"Puncak biasanya kematian itu lagging dua minggu. Tapi saya rasa tidak akan sampai 500 atau sampai 1.000 apalagi mencapai 2.069 kematian per hari," paparnya.

Selain komorbid, lansia dan orang yang belum divaksin juga menjadi kelompok yang berpotensi mendapatkan fatality saat terpapar. 
Oleh karenanya kembali pemerintah meminta masyarakat terutama kelompok tersebut untuk segera mendapatkan vaksinasi baik dosis pertama, kedua atau booster.

"Inisiatif pemerintah supaya mengurangi kematian adalah vaksin cepat-cepat semua yang belum divaksin pertama, lansia, dan punya komorbid," ujar Budi.

Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19, per 15 Februari 2022, jumlah penambahan kasus kematian harian sebanyak 134 kasus. Kemudian kasus terkonfirmasi positif bertambah 57.049 kasus, dan jumlah kesembuhan harian bertambah 26.747 kesembuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×