kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.690.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.910   -29,00   -0,16%
  • IDX 6.410   65,94   1,04%
  • KOMPAS100 845   12,09   1,45%
  • LQ45 640   9,44   1,50%
  • ISSI 222   2,82   1,29%
  • IDX30 359   5,14   1,45%
  • IDXHIDIV20 438   4,81   1,11%
  • IDX80 96   1,44   1,52%
  • IDXV30 120   0,97   0,81%
  • IDXQ30 114   1,39   1,23%

Cadangan Devisa Turun Tipis, Tekanan Rupiah dan Impor Mengintai Semester II


Sabtu, 08 Agustus 2026 / 14:56 WIB
Cadangan Devisa Turun Tipis, Tekanan Rupiah dan Impor Mengintai Semester II
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah 44 poin (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

Josua juga menyoroti lonjakan impor yang berpotensi menambah kebutuhan dolar AS dalam beberapa bulan ke depan. Impor bahan baku tercatat tumbuh 18,38%, sedangkan impor barang modal meningkat 20,50% sepanjang semester I 2026.

Dari sisi ekonomi, peningkatan impor tersebut menjadi sinyal positif karena menunjukkan aktivitas produksi dan investasi yang menguat. Namun, kenaikan impor juga berarti kebutuhan valuta asing dalam jangka pendek semakin besar.

"Jika peningkatan impor tersebut tidak menghasilkan tambahan produksi dan ekspor, tekanan terhadap transaksi berjalan dan cadangan devisa akan meningkat," tandas Josua.

Josua memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada 2026 berpotensi melebar menjadi sekitar 1%-2% dari produk domestik bruto (PDB).

Baca Juga: Emiten Produsen Baja Raih Kinerja Keuangan Positif, Simak Prospek di Semester II-2026

Tekanan tersebut dapat semakin besar apabila kebutuhan dolar meningkat sementara arus devisa masuk tidak tumbuh seimbang.

Selain itu, selama rupiah masih rentan bergerak menuju level Rp 18.000 per dolar AS, BI diperkirakan tetap menggunakan sebagian cadangan devisa untuk meredam volatilitas nilai tukar.

Josua memperkirakan rupiah pada akhir tahun berada di kisaran Rp 17.800-Rp 18.000 per dolar AS.

Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual juga melihat sejumlah risiko yang dapat menekan cadangan devisa hingga akhir tahun.

Risiko tersebut mencakup arah kebijakan moneter The Fed yang cenderung hawkish, pertumbuhan kredit yang menguat, tren defisit perdagangan, serta prospek peringkat utang Indonesia dari lembaga pemeringkat internasional.

David memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada akhir 2026 berada di kisaran US$ 142 miliar-US$ 146 miliar.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Semester II Diproyeksi Melambat, Dibayangi Faktor Daya Beli

Dengan demikian, meski posisi cadangan devisa saat ini masih tergolong aman, ruang penurunannya tetap perlu dicermati.

Tekanan rupiah, kebutuhan impor, kondisi perdagangan, dan arus modal akan menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar bantalan devisa Indonesia tergerus hingga akhir tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×