Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gejolak pasar modal kembali menguji narasi kuatnya fundamental ekonomi nasional. Dalam dua hari berturut-turut, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan trading halt setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan tajam, sementara nilai tukar rupiah kembali melemah.
Tekanan pasar dipicu evaluasi indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka peluang Indonesia dipersepsikan sebagai pasar frontier.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai gejolak tersebut hanya bersifat sementara. Ia menyebut reaksi pasar berlebihan dan tidak mencerminkan kondisi riil perekonomian.
“Fundamental ekonomi tidak bermasalah. Ini hanya shock. Biasanya dua atau tiga hari juga selesai,” ujarnya di Gedung Kementerian Perekonomian, Kamis (29/1/2026).
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh 6% pada 2026
Namun, tekanan di pasar cukup dalam. Pada Kamis pagi, IHSG sempat anjlok hingga 8% ke level 7.654,66 dan memaksa BEI menghentikan sementara perdagangan pada pukul 09.26 WIB.
Ini menjadi trading halt* kedua sepanjang Januari, setelah sehari sebelumnya bursa juga membekukan perdagangan akibat tekanan jual yang tajam.
Purbaya mengakui kekhawatiran pasar bersumber dari evaluasi MSCI. Meski begitu, ia optimistis Indonesia tidak akan turun kelas.
Menurutnya, catatan MSCI lebih bersifat teknis, terutama soal transparansi dan kualitas saham tertentu. Ia juga menilai kejatuhan pasar dipicu saham-saham spekulatif.
Pandangan berbeda disampaikan Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto. Ia menilai evaluasi MSCI berpotensi memicu arus keluar dana asing, meski skalanya diperkirakan terbatas.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Indonesia Bakal Tumbuh Lebih Tinggi di Tahun Depan
“Potensi dana keluar tidak lebih dari US$ 4 miliar. Dampaknya ke rupiah masih bisa dikelola, meski pasar saham bisa bergejolak dalam jangka pendek,” ujarnya.
Tekanan sudah tercermin di pasar. Rupiah ditutup melemah 0,2% ke level Rp 16.755 per dolar AS pada Kamis (29/1). Sementara IHSG ditutup turun 1,06% ke level 8.232,20 setelah bergerak volatil sepanjang hari.
Myrdal menilai gejolak ini menjadi peringatan bagi otoritas pasar modal, terutama terkait saham berkapitalisasi kecil dengan likuiditas dan free float terbatas yang kerap memicu volatilitas.
Sikap lebih waspada disampaikan Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede. Menurutnya, hingga peninjauan ulang MSCI pada Mei 2026, pasar akan tetap dibayangi ketidakpastian.
Dalam skenario ekstrem, mengacu pada estimasi Goldman Sachs, arus keluar modal asing bisa melampaui US$ 13 miliar jika Indonesia benar-benar turun kelas.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Akui Ekonomi Indonesia Bakal Melambat di Kuartal III-2025
Josua menilai pasar obligasi relatif lebih tahan karena ditopang investor domestik. Namun, jika tekanan di pasar saham memicu sentimen risk-off, investor asing berpotensi mengurangi eksposur di surat utang.
Untuk investasi langsung asing (FDI), dampaknya tidak instan, tetapi isu tata kelola, kepastian regulasi, dan keterbukaan kepemilikan berisiko membuat investor menahan keputusan.
Dalam jangka pendek, pergerakan rupiah akan sangat ditentukan arus modal portofolio. Jika kekhawatiran penurunan kelas membesar dan aksi jual asing berlanjut, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut.
Selanjutnya: Asus Zenbook Duo 14 (2026) Rilis: Bawa Dua Layar OLED 144Hz dan Intel Core Ultra X9
Menarik Dibaca: Promo A&W Weekend Deals: 6 Ayam & Cheeseburger Gratis, Jangan Sampai Kehabisan!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













