kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -12.000   -0,46%
  • USD/IDR 18.090   -6,00   -0,03%
  • IDX 6.074   -56,97   -0,93%
  • KOMPAS100 795   -4,82   -0,60%
  • LQ45 606   -2,11   -0,35%
  • ISSI 210   -1,89   -0,89%
  • IDX30 341   -0,96   -0,28%
  • IDXHIDIV20 423   -0,48   -0,11%
  • IDX80 91   -0,42   -0,46%
  • IDXV30 115   -0,62   -0,53%
  • IDXQ30 109   -0,05   -0,05%

Bukan Hanya Sentimen Global, Pelemahan Rupiah Lebih Banyak Dipicu Faktor Domestik


Rabu, 29 Juli 2026 / 14:04 WIB
Bukan Hanya Sentimen Global, Pelemahan Rupiah Lebih Banyak Dipicu Faktor Domestik
ILUSTRASI. Pelemahan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak disebabkan oleh faktor domestik, meskipun faktor eksternal turut mempengaruhi.(ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah masih melemah. Rupiah berada di level Rp 18.082 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (29/7/2026) siang atau pukul 12.10 WIB.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai, pelemahan nilai tukar rupiah saat ini lebih banyak disebabkan oleh faktor domestik, meskipun faktor eksternal turut mempengaruhi.

“Faktor global itu mungkin 30%-40%, dan faktor domestik mencapai 60%-70% dari masalah,” tutur Dipo dalam agenda CORE Midyear Economic Review 2026 “Pertaruhan Stabilitas Ekonomi”, Rabu (29/7/2026).

Baca Juga: Sepi Peminat, Tak Ada Investor yang Mengajukan Insentif Pajak di IKN pada 2025

Ia menjelaskan bahwa faktor domestik menjadi salah satu faktor yang paling banyak mempengaruhi pergerakan rupiah. Menurutnya, tekanan terhadap rupiah terjadi karena mata uang Indonesia mengalami pelemahan paling dalam di kawasan Asia. Bahkan, sejumlah laporan menunjukkan bahwa rupiah masuk dalam jajaran mata uang dengan kinerja terburuk, yakni peringkat kedua atau ketiga terlemah dalam indeks mata uang.

Dipo menilai, apabila pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global, maka pergerakannya seharusnya akan sejalan dengan mata uang negara lain di kawasan. Namun, ia melihat kondisi rupiah berbeda dibandingkan sejumlah mata uang negara tetangga, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, dan peso Filipina yang telah mengalami penguatan.

Faktor lainnya yakni, bahwa Credit Default Swap (CDS) menjadi indikator yang menggambarkan persepsi investor terhadap kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajiban utangnya. Menurutnya, CDS dapat dianalogikan sebagai premi asuransi yang memberikan perlindungan apabila pemerintah mengalami gagal bayar utang.

Ia menilai, kenaikan CDS Indonesia mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap risiko surat utang Indonesia. Pada awal tahun, CDS Indonesia tercatat meningkat hingga sekitar 70 basis poin (bps) dan sempat menyentuh level 100 bps. Padahal, secara fundamental ekonomi, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, dan India.

Baca Juga: Menebak Arah Estafet BI dan Kementerian Keuangan Pasca Mundurnya Perry Warjiyo

Menurutnya, kekhawatiran investor dan pelaku ekonomi lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kebijakan yang dinilai berubah-ubah dan sulit diprediksi. Ia menyebut isu mengenai kebijakan yang tidak dapat diprediksi tersebut juga menjadi perhatian lembaga pemeringkat, termasuk S&P Global Ratings, yang menyebut kekhawatiran kebijakan di Indonesia yang selalu berubah-ubah.

“S&P bilang risiko Indonesia adalah kebijakan yang berubah-ubah, dan itu saya rasa bisa ke translate di CDS ini,” ungkapnya.

Faktor domestik selanjutnya adalah kinerja neraca perdagangan Indonesia untuk pertama kalinya sejak 72 bulan beruntun sejam Mei 2020 mengalami surplus. Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Defisit terjadi karena nilai impor mencapai US$ 24,81 miliar, sementara ekspor hanya US$ 23,20 miliar.

Dipo memang  menegaskan bahwa kondisi tersebut belum menunjukkan adanya krisis, melainkan menjadi sinyal peringatan dini bahwa bantalan eksternal Indonesia mulai mengalami penipisan.

Menurutnya, peningkatan impor akibat konflik Iran turut memberikan tekanan, meskipun ekspor juga mengalami kenaikan, karena pertumbuhan impor masih lebih tinggi dibandingkan ekspor. Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu indikator yang turut menjadi perhatian dan dipantau oleh investor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×