kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

BPS Sebar Kuesioner ke 14.000 Jemaah, Ukur Kepuasan Layanan Ibadah Haji


Selasa, 05 Mei 2026 / 12:54 WIB
BPS Sebar Kuesioner ke 14.000 Jemaah, Ukur Kepuasan Layanan Ibadah Haji
ILUSTRASI. BPS menyebarkan kuesioner survei kepuasan kepada jemaah haji Indonesia di Madinah untuk mengukur kualitas layanan yang diterima ?saat ibadah haji.(KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – MADINAH. Badan Pusat Statistik (BPS) mulai menyebarkan kuesioner survei kepuasan kepada jemaah haji Indonesia di Madinah untuk mengukur kualitas layanan yang diterima para tamu Allah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

Wakil Ketua Tim Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nur Ikhlas menyampaikan, survei ini merupakan kolaborasi tahunan antara pemerintah dan BPS untuk memotret tingkat kepuasan jemaah terhadap penyelenggaraan ibadah haji.

“Jadi memang survei ini dilakukan untuk melihat atau memberikan feedback sejauh mana penyelenggaraan ibadah haji itu dirasa puas oleh jemaah kita. Karena kan tujuan kita dalam memberikan pelayanan kepada tamu Allah, tentunya agar para tamu Allah ini bisa nyaman ketika berada di Makkah dan juga di Madinah,” tutur Ikhlas di Madinah, Senin (4/5/2026).

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Kuartal I-2026, BPS: Salah Satu yang Tertinggi di Asia

Menurut dia, hasil survei ini akan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dalam memperbaiki penyelenggaraan ibadah haji pada musim berikutnya.

Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, SKLHI 2026 menghadirkan sejumlah inovasi metode pengumpulan data. Selain menggunakan kuesioner tertulis, BPS kini menambahkan wawancara mendalam atau in depth interview, observasi langsung di lapangan, serta sistem pengisian digital.

Pengisian sistem digital dilakukan untuk memberi keleluasaan bagi jemaah yang tidak ingin menggunakan kertas, sekaligus menyesuaikan metode pengumpulan data dengan perkembangan teknologi. Menurutnya, metode tersebut telah mulai diterapkan pada pelaksanaan survei tahun ini.

Ikhlas menjelaskan, survei ini melibatkan sekitar 14.400 sampel jemaah yang dipilih menggunakan metode stratified multi-stage sampling. Teknik ini dilakukan agar seluruh embarkasi, kelompok usia, jenis kelamin, hingga kloter keberangkatan memiliki keterwakilan dalam hasil survei.

Baca Juga: Ekonomi RI Tumbuh 5,61% pada Kuartal I-2026, Tertinggi Lebih dari Satu Dekade

Ia menuturkan, pertanyaan yang diajukan kepada jemaah mencakup seluruh tahapan perjalanan ibadah haji. Mulai dari pelayanan di dalam negeri saat berada di asrama haji, proses keberangkatan, layanan penerbangan, kedatangan di bandara Arab Saudi, pelayanan di Madinah, pelayanan di Makkah, fase puncak ibadah Armuzna, hingga proses pemulangan ke tanah air.

Ia menjelaskan, sejak proses kedatangan jemaah di bandara, tim BPS telah turun langsung melakukan observasi untuk memantau berbagai aspek layanan.

Pengamatan dilakukan mulai dari kemungkinan kendala pada dokumen perjalanan seperti paspor, hingga menilai bagaimana penyelenggara haji atau PPIH mengarahkan dan melayani jemaah sejak awal kedatangan. Menurutnya, pemantauan tersebut terus dikawal sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh terhadap kualitas layanan haji.

Untuk tahap Madinah, petugas BPS mendistribusikan kuesioner dengan berkoordinasi bersama ketua kloter, ketua rombongan, dan ketua regu. Jika di lapangan ditemukan persoalan pelayanan, temuan itu langsung disampaikan kepada petugas sektor agar dapat segera ditindaklanjuti.

“Misalnya petugas BPS ketika datang di kloter A, langsung coba minta izin untuk melihat beberapa kamar, melihat konsumsinya seperti apa,” ujarnya.

Baca Juga: KJRI Jeddah: 3 WNI Ditangkap Aparat Keamanan Arab Saudi, Imbas Promosi Jual Beli Haji

Menurut Ikhlas, salah satu pembaruan penting tahun ini adalah pengukuran indeks proses layanan. Jika sebelumnya survei lebih menitikberatkan pada hasil akhir atau output layanan, kini BPS juga menilai bagaimana kualitas proses pelayanan diterima oleh jemaah.

Sebagai contoh, selain menanyakan apakah jemaah mendapatkan kamar hotel, petugas juga menggali apakah proses pembagian kunci berjalan lancar atau memerlukan waktu tunggu lama.

Hal serupa diterapkan pada layanan konsumsi, transportasi, hingga layanan kesehatan.

Nantinya, seluruh data akan diolah menjadi Indeks Kepuasan Haji yang menjadi barometer evaluasi penyelenggaraan haji nasional.

“Hasil dari indeks kepuasan haji tentunya sebagai barometer evaluasi ya. Ketika nilainya misalnya turun atau meningkat, akan menjadi bahan untuk Kementerian Haji melihat di sektor-sektor mana atau di tusi-tusi mana yang perlu ditingkatkan,” jelasnya.

Ia berharap, dengan metode survei yang semakin rinci dan real time, kualitas evaluasi penyelenggaraan haji Indonesia dapat semakin akurat sehingga pelayanan kepada jemaah terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Sebagai informasi, Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) 2025 mencapai 88,46, meningkat 0,26 poin dibandingkan tahun 2024 yang sebesar 88,20. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×