kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.546.000   -13.000   -0,51%
  • USD/IDR 18.153   -13,00   -0,07%
  • IDX 5.007   -90,60   -1,78%
  • KOMPAS100 644   -11,50   -1,75%
  • LQ45 509   -6,39   -1,24%
  • ISSI 168   -3,65   -2,13%
  • IDX30 287   -2,49   -0,86%
  • IDXHIDIV20 387   -1,61   -0,42%
  • IDX80 74   -1,20   -1,58%
  • IDXV30 108   0,22   0,21%
  • IDXQ30 97   -0,67   -0,69%

BPS catat ekspor Oktober 2019 tumbuh 5,92% menjadi US$ 14,93 miliar


Jumat, 15 November 2019 / 15:39 WIB
ILUSTRASI. Foto areal suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis (14/11/2019).


Reporter: Bidara Pink | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ekspor Indonesia pada bulan Oktober 2019 mengalami peningkatan dari bulan lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor pada Oktober 2019 adalah sebesar US$ 14,93 miliar atau naik sebesar 5,92% (mom).

Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan ekspor minyak dan gas (migas) yang sebesar 11,58% (mom) atau menjadi US$ 926,1 juta.

"Tapi sebagai catatan, dari kenaikan ekspor migas, terdapat penurunan nilai hasil minyak, tetapi nilai minyak mentah dan nilai migas naik," tambah Kepala BPS Suhariyanto pada Jumat, (15/11) di Jakarta.

Baca Juga: Walau ekspor tumbuh tipis, neraca dagang masih bisa surplus

Secara terperinci, ekspor hasil minyak menurun sebesar 21,54% menjadi US$ 180,1 juta. Sementara itu, ekspor minyak mentah meningkat naik sebesar 28,43% menjadi US$ 121,6 juta dan ekspor gas naik 23,45% menjadi US$ 624,5 juta.

Kemudian ini juga disebabkan oleh peningkatan ekspor non migas sebesar 5,56% (mom) atau menjadi US$ 14,001 miliar. Sumbangan non migas terhadap kinerja ekspor Indonesia adalah sebesar 93,80% pada bulan Oktober 2019 ini.

Namun, kinerja ekspor bila dibandingkan dengan Oktober 2018, terlihat mengalami penurunan sebesar 6,13% (yoy).

Baca Juga: Produksi anjlok, ekspor kopi rontok

Demikian juga dengan nilai ekspor kumulatif dari Januari 2019 - Oktober 2019. Total ekspor tercatat sebesar US$ 139,11 miliar atau turun 7,80% dari periode yang sama dari tahun sebelumnya.

"Memang tantangannya besar karena banyak ekonomi negara yang melambat, komoditas juga fluktuatif. Pemerniitah harus memikirkan langkah kebijakan," kata Suhariyanto.

Baca Juga: Volume transaksi trade finance BNI naik 30,28%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×