Reporter: Hervin Jumar | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 40.040 warga mengungsi akibat gempa bumi magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sejak Sabtu (15/8/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan angka tersebut tidak serta-merta mencerminkan jumlah rumah yang rusak akibat gempa. Sebagian warga memilih mengungsi karena dampak psikologis setelah gempa, meski rumah mereka belum tentu mengalami kerusakan.
"Data pengungsi itu sebesar 40.040 jiwa. Ini bukan menggambarkan kerusakan rumah, jadi perlu kita hati-hati untuk menerjemahkannya. Namun, ini karena banyak dampak psikologis yang dihasilkan oleh warga," kata Berton dalam konferensi pers Update Penanganan Pascagempa M7,7 NTT 2026 yang disiarkan melalui YouTube BNPB, Selasa (18/8/2026).
Baca Juga: Data BNPB: 1.182 Orang Luka Akibat Gempa NTT, Ini Alasan Beda Data dengan Basarnas
Berdasarkan data sementara BNPB, jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Manggarai Timur. Sebanyak 966 orang tercatat berada di pos pengungsian BPBD, sementara sekitar 14.000 warga lainnya mengungsi secara mandiri.
Di Kabupaten Manggarai, jumlah pengungsi mencapai 6.487 orang. Kemudian Kabupaten Nagekeo sebanyak 6.221 orang dan Kabupaten Sikka 5.681 orang.
Selanjutnya, Kabupaten Ende mencatat 3.666 pengungsi, Kabupaten Ngada 1.920 orang, serta Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 600 orang.
Di sisi lain, BNPB mencatat total 11.925 unit rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 5.516 unit masuk kategori rusak berat, 1.916 unit rusak sedang, dan 4.493 unit rusak ringan.
Berton menyebut daerah dengan jumlah kerusakan rumah tertinggi antara lain Kabupaten Nagekeo, Manggarai Barat dan Ngada.
Sementara itu, penanganan infrastruktur dasar juga terus dilakukan. Balai Pelaksana Jalan Nasional telah menangani dampak gempa di sejumlah ruas jalan nasional dan jembatan.
BNPB mencatat terdapat 33 titik longsor, dengan 32 titik telah ditangani sementara dan kembali fungsional. Selain itu, terdapat empat titik patahan jalan yang seluruhnya sudah dapat dilalui.
Untuk mempercepat pemulihan akses, pemerintah telah memobilisasi tujuh unit ekskavator dan empat unit loader ke wilayah terdampak. Ruas Wolowaru-Maumere juga telah kembali dapat dilalui setelah dilakukan penanganan.
Adapun sejumlah lokasi masih hanya dapat dilalui secara terbatas. Sebanyak tujuh lokasi dapat dilewati kendaraan secara bergantian selama proses pemulihan infrastruktur berlangsung.
Baca Juga: Fit & Proper Test Calon Gubernur BI Destry Damayanti Bakal Digelar 26 Agustus 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
