kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.819.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.619   66,00   0,38%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

BMKG: Tahun depan, kemungkinan tidak ada potensi anomali iklim


Sabtu, 02 November 2019 / 08:00 WIB


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Berdasarkan hasil monitoring dan analisis dinamika atmosfer, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksikan, tahun depan tidak terindikasi akan terjadi El-Nino kuat.

NOAA dan NASA (Amerika Serikat) serta JAMSTEC (Jepang) pun memperkirakan hasil yang serupa. "Ini menandai tahun 2020 diperkirakan tidak ada potensi anomali iklim yang berdampak pada curah hujan di wilayah Indonesia," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam keterangan tertulis, Kamis (31/10).

Tahun depan, curah hujan bakal cenderung sama dengan pola iklim normal (klimatologis). Musim kemarau umumnya akan bergulir mulai April- Mei hingga Oktober 2020.

Baca Juga: BMKG: Puncak musim hujan Januari-Februari, waspadai cuaca ekstrem November-Desember

Sedang wilayah di dekat ekuator, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Riau, musim kemarau pertama mulai Februari-Maret 2020. Sehingga, tetap perlu waspada untuk potensi kondisi kering yang bisa berdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di awal tahun pada wilayah dekat ekuator.

BMKG mengimbau, perlu mengoptimalkan usaha menjaga cadangan air melalui optimalisasi manajemen operasional air waduk saat musim penghujan dan melalui gerakan memanen air hujan.




TERBARU

[X]
×