kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.680.000   -30.000   -1,11%
  • USD/IDR 17.895   19,00   0,11%
  • IDX 6.334   66,49   1,06%
  • KOMPAS100 829   6,71   0,82%
  • LQ45 629   3,51   0,56%
  • ISSI 219   2,70   1,25%
  • IDX30 352   1,06   0,30%
  • IDXHIDIV20 428   -0,99   -0,23%
  • IDX80 95   0,76   0,81%
  • IDXV30 118   0,02   0,02%
  • IDXQ30 112   0,02   0,02%

BMKG: Tahun depan, kemungkinan tidak ada potensi anomali iklim


Sabtu, 02 November 2019 / 08:00 WIB


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

"Teknologi modifikasi cuaca bisa diterapkan sebagai alternatif pada saat peralihan kedua musim tersebut, terutama bagi wilayah yang rawan kekeringan dan karhutla," ujar Dwikorita.

Sementara awal musim hujan akhir 2019 akan lebih mundur dari normalnya. Periode musim hujan, November 2019-Maret 2020 masih sesuai dengan normalnya, namun bisa lebih basah dibandingkan 2019, khususnya Sumatra dan Kalimantan bagian Utara.

Baca Juga: BMKG: Musim hujan di Jakarta dan sekitarnya mulai November

"Puncak musim hujan diprediksikan pada Januari-Februari 2020. Demikian halnya awal musim kemarau diperkirakan mirip dengan normalnya, yaitu sekitar April-Mei 2020," imbuh Dwikorita.

Untuk peluang terjadi bencana hidrometeorologis, yakni siklon tropis, hujan ekstrem, puting beliung, angin kencang, gelombang ekstrem, dan kekeringan iklim, tetap perlu diwaspadai. "Meskipun diprediksi berkurang jumlah kejadian maupun kekuatannya pada kondisi iklim yang normal," kata Dwikorita.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×