kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -35.000   -1,33%
  • USD/IDR 17.988   17,00   0,09%
  • IDX 6.315   -19,16   -0,30%
  • KOMPAS100 830   -5,48   -0,66%
  • LQ45 627   -5,43   -0,86%
  • ISSI 218   0,30   0,14%
  • IDX30 353   -3,74   -1,05%
  • IDXHIDIV20 435   -6,25   -1,42%
  • IDX80 95   -0,51   -0,53%
  • IDXV30 119   -0,20   -0,17%
  • IDXQ30 113   -1,54   -1,35%

BI Soroti Rendahnya Literasi Keuangan UMKM, Jadi Penghambat Akses Kredit


Jumat, 24 Juli 2026 / 10:48 WIB
BI Soroti Rendahnya Literasi Keuangan UMKM, Jadi Penghambat Akses Kredit
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) menilai peningkatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) perlu dipercepat. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menilai peningkatan kapasitas pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu pekerjaan rumah yang perlu dipercepat agar sektor tersebut semakin mudah mengakses pembiayaan formal.

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, banyak UMKM, khususnya startup yang dijalankan generasi muda, memiliki inovasi yang tinggi. Namun secara umum, pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam aspek manajemen usaha dan literasi keuangan.

“Secara umum, pelaku UMKM masih memiliki kemampuan manajemen dan literasi keuangan yang relatif rendah,” tutur Destry dalam agenda assesmen BI dalam mendorong pembiayaan, Jumat (24/7/2026).

Baca Juga: Presiden Prabowo: Pemerintah Tidak Anti-Kritik, tetapi Bukan Fitnah

Ia melihat, rata-rata pemahaman mereka mengenai pencatatan keuangan, laporan laba rugi, maupun neraca masih perlu ditingkatkan. Padahal, lanjutnya jika mereka mampu mengelola keuangan dengan baik, akses terhadap pembiayaan formal akan semakin terbuka.

Destry mencatat, pertumbuhan kredit UMKM hingga Juni 2026 baru sekitar 1%, jauh di bawah pertumbuhan kredit perbankan secara keseluruhan yang mencapai 12,6%.

Ia juga menambahkan, masih banyak UMKM yang mengandalkan pembiayaan dari sektor informal dengan biaya yang lebih mahal dibandingkan pembiayaan perbankan. Karena itu, menurutnya peningkatan kapasitas (capacity building) bagi pelaku UMKM menjadi sangat penting.

Baca Juga: Prabowo: Indonesia Konsisten Jalankan Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Meski demikian, ia menyebut pemberdayaan UMKM tidak mungkin dilakukan sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, regulator seperti Bank Indonesia dan OJK, kementerian terkait, media, dunia usaha, serta seluruh pemangku kepentingan.

“Dengan sinergi tersebut, kita berharap UMKM semakin kuat dan mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×