Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memproyeksikan kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada 2026 tetap terjaga, dengan defisit transaksi berjalan yang diperkirakan rendah di kisaran 0,1% hingga 0,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Optimisme tersebut didukung oleh ketahanan sektor eksternal sepanjang 2025, meski di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global.
"Ke depan, Bank Indonesia senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan, didukung sinergi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memperkuat ketahanan eksternal," ungkap Ramdan Denny Prakoso, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI dalam keterangannya, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: BI: Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) Surplus US$ 6,1 Miliar di Kuartal IV-2025
Sepanjang 2025, transaksi berjalan mencatat defisit terkendali sebesar US$ 1,5 miliar atau 0,1% dari PDB, jauh lebih rendah dibandingkan defisit 2024 yang mencapai US$ 8,6 miliar atau 0,6% dari PDB.
Perbaikan kinerja eksternal tahun lalu ditopang peningkatan surplus neraca perdagangan barang seiring membaiknya ekspor, terutama produk manufaktur. Surplus neraca pendapatan sekunder juga meningkat berkat kenaikan remitansi Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Di sisi lain, defisit neraca jasa meningkat akibat kenaikan defisit jasa telekomunikasi yang sejalan dengan ekspansi sektor informasi dan komunikasi. Defisit neraca pendapatan primer juga melebar dipengaruhi kenaikan pembayaran dividen.
Sementara itu, transaksi modal dan finansial sepanjang 2025 mencatat defisit sebesar US$ 4,2 miliar. Kondisi ini dipicu keluarnya aliran modal asing pada investasi portofolio dan investasi lainnya, seiring tingginya ketidakpastian pasar keuangan global sepanjang tahun.
Meski demikian, posisi cadangan devisa tetap kuat. Cadangan devisa meningkat dari US$ 155,7 miliar pada akhir Desember 2024 menjadi US$ 156,5 miliar pada akhir Desember 2025. Angka tersebut setara pembiayaan 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Ke depan, BI menegaskan akan terus mencermati dinamika ekonomi global yang berpotensi memengaruhi prospek NPI, sekaligus memperkuat respons bauran kebijakan bersama pemerintah dan otoritas terkait guna menjaga stabilitas serta ketahanan eksternal pada 2026.
Selanjutnya: Indonesia Secures 19% Tariff Deal with US, Palm Oil and Other Commodities Exempt
Menarik Dibaca: Promo JSM Superindo 20-22 Februari 2026, Nata De Coco-Ikan Shisamo Beli 1 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)