kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

BI proyeksi defisit transaksi berjalan tahun ini membengkak jadi US$ 25 miliar


Rabu, 25 Juli 2018 / 12:09 WIB

BI proyeksi defisit transaksi berjalan tahun ini membengkak jadi US$ 25 miliar
ILUSTRASI. Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara


KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memproyeksi defiist transaksi berjalan alias current account deficit (CAD) pada tahun ini sebesar US$ 25 miliar. Defisit ini lebih besar dari 2017 lalu yang mencapai US$ 17,53 miliar atau 1,73% dari PDB.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara mengatakan, CAD yang diproyeksi sebesar US$ 25 miliar masih aman, yakni di bawah 3% dari PDB.


“Tahun ini CAD US$ 25 miliar atau mungkin lebih. Itu kan harus ada modal yang masuk dalam bentuk PMA, portofolio, dan utang luar negeri,” ucap Mirza di Gedung DPR RI, Rabu (25/7).

Ia melanjutkan, untuk membiayai CAD ini, maka butuh modal masuk. Perhatian BI untuk jangka pendek ini adalah modal masuk terutama ke portofolio. Itulah, menurut Mirza, yang menjadi alasan BI mereaktivasi Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang sudah dilelang pada Senin lalu.

“Selama ini bank pakai SDBI, sekarang BI buka SBI. SBI ini boleh dibeli asing sementara SDBI tidak boleh. Jadi, harapannya dengan begitu seminggu kemudian bank itu jual ke investor asing. Ada instrumen lain yang kami sediakan untuk investor masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Asal tahu saja, berdasarkan hasil lelang SBI tenor 9 dan 12 bulan Senin (23/7) lalu, porsi yang dieksekusi adalah Rp 4.180 miliar untuk SBI 9 bulan dan Rp 1.795 miliar untuk SBI 12 bulan. Sementara, RRT pemenang tercatat sebesar 6,04% untuk 9 bulan dan 6,17% untuk 12 bulan.

Sementara, dari segi Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), Mirza mengatakan bahwa situasinya pada tahun ini berbeda dengan tahun lalu. Sebab, tahun ini net keluar di portofolio lebih besar. Tahun lalu, NPI mencatatkan surplus US$ 12 miliar.

“Pasar saham kan netnya masih negatif. Kalau pasar SBN sudah mulai masuk lagi tapi ya kami harap masuknya bisa lebih banyak. Kalau situasi lebih stabil portofolio bisa lebih banyak,” ucapnya.


Reporter: Ghina Ghaliya Quddus
Editor: Herlina Kartika

Video Pilihan

Terpopuler

Close [X]
×