kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

BI minta pemerintah waspadai perlambatan impor


Rabu, 22 Juli 2015 / 18:38 WIB


Reporter: Asep Munazat Zatnika | Editor: Uji Agung Santosa

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menganggap pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak disebabkan oleh sentimen global. Meski demikian ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian pemerintah terkait kondisi dalam negeri.

Misalnya saja, data neraca perdagangan, serta serapan anggaran belanja pemerintah. Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, khusus untuk neraca perdagangan yang harus diwaspadai adalah trend penurunan ekspor maupun impor.

Meskipun surplus, tetapi hal itu disebabkan oleh turunnya angka impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor. "Turunnya impor lebih besar dari ekspor harus diwaspadai," ujar Agus, Selasa (22/7) di Istana Negara, Jakarta.

Sebab, jika hal ini terjadi secara berkelanjutan akan berdampak negatif terhadap persepsi pasar. Meskipun akan berdampak pada turunnya neraca transaksi berjalan.

Menteri Koordinator (Menko) bidang perekonomian Sofyan Djalil bilang, ada pelemahan impor memang ada andil dari pelambatan ekonomi. Nah, jika pelambatan ekonomi terus berlanjut maka rupiah bisa tergerus lagi.

Namun demikian, pemerintah sudah menyiapkan beberapa jurus agar pertumbuhan bisa terjaga, tidak melembat lebih dalam. Salah satunya dengan mengalihkan pusat pertumban bukan padaindustri, tetapi pada belanja pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×