kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   10.000   0,36%
  • USD/IDR 17.723   15,00   0,08%
  • IDX 6.481   -45,04   -0,69%
  • KOMPAS100 844   -4,93   -0,58%
  • LQ45 639   -5,95   -0,92%
  • ISSI 228   -0,48   -0,21%
  • IDX30 357   -3,29   -0,91%
  • IDXHIDIV20 433   -3,49   -0,80%
  • IDX80 96   -0,69   -0,71%
  • IDXV30 120   -0,56   -0,46%
  • IDXQ30 113   -1,04   -0,92%

BI: Inflasi bisa mencapai 6,7%


Rabu, 01 September 2010 / 13:48 WIB


Reporter: Ruisa Khoiriyah | Editor: Edy Can

JAKARTA. Bank Indonesia memperkirakan target inflasi tahun ini mustahil tercapai. Sebab, bank sentral memperkirakan harga pangan masih akan terus tinggi karena faktor Lebaran dan Tahun Baru.

Deputi Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono memperkirakan inflasi akan berlari hingga 6,7% tahun ini. "Komponen makanan sudah mulai hilang atau turun tetapi kita lihat dulu kecepatan turunnya. Jangan kaget angka inflasi masih tinggi," kata Hartadi usai mengikuti acara pelantikan Darmin Nasution sebagai Gubernur Bank Indonesia di Gedung Mahkamah Agung, Rabu (1/9).

Ramalan Hartadi ini jauh dari target Bank Indonesia tahun ini. Sebelumnya, Bank Indonesia memperkirakan inflasi tahun ini akan sebesar 5% plus minus 1%.

Dengan melihat otensi kenaikan inflasi yang cukup besar tersebut, Hartadi mengatakan akan ada penyesuaian kebijakan moneter seperti penentuan suku bunga acuan. Apakah, Bank Indonesia akan mengatrol suku bunga acuan, Hartadi belum mau mengungkapkannya. "Nanti kita lihat, kalau masih kurang baru akan kami sesuaikan," ucapnya.

Sebaliknya, bila semua sudah bisa mencukupi, Bank Indonesia belum mau mengatrol suku bunga acuan yang telah bertahan lama di level 6,5%. Namun, Hartadi mengatakan, banyak langkah yang bisa dilakukan oleh pemerintah agar tekanan inflasi tidak kian menggila. Misal, penanganan kecukupan ketersediaan pangan. "Harus ada kebijakan lain yang harus diperbaiki, misalnya bagaimana meningkatkan suplai, kecukupan bahan pangan distribusi dan segala macamnya," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×