kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.846.000   69.000   3,88%
  • USD/IDR 16.779   91,00   0,54%
  • IDX 6.264   295,72   4,96%
  • KOMPAS100 895   51,50   6,10%
  • LQ45 707   38,12   5,69%
  • ISSI 194   7,89   4,25%
  • IDX30 373   20,44   5,79%
  • IDXHIDIV20 452   20,05   4,64%
  • IDX80 102   5,82   6,08%
  • IDXV30 107   5,11   5,03%
  • IDXQ30 123   5,56   4,72%

BI Catat Surplus Anggaran Rp 55,66 Triliun Hingga September 2024


Rabu, 06 November 2024 / 17:48 WIB
BI Catat Surplus Anggaran Rp 55,66 Triliun Hingga September 2024
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat jumpa pers pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur di Jakarta, Rabu (16/10). Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, hingga September 2024, BI telah memperoleh surplus anggaran sebesar Rp 55,66 triliun.


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID-JAKARTA Kebijakan yang diambil oleh Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, serta dampak rambatan global diprediksi akan memberikan pengaruh positif terhadap kinerja anggaran BI tahun 2024.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, hingga September 2024, BI telah memperoleh surplus anggaran sebesar Rp 55,66 triliun. Sementara, sampai akhir tahun 2024, realiasasi Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) diprognosokan surplus sebesar Rp 54,16 triluun.

Baca Juga: Menimbang Apakah Bank Indonesia akan Menyumbang Surplus ke Pemerintah Tahun Ini?

"Sampai September 2024, surplus anggaran tercatat Rp 55,66 triliun, dan hingga akhir 2024, realisasi ATBI diprognosokan akan mengalami surplus sebesar Rp 54,16 triliun," ujar Perry dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (6/11).

Perry menjelaskan, surplus anggaran ini dipengaruhi oleh penerimaan dari dalam negeri, antara lain berasal dari yield atau kupon  Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki oleh BI.

Tidak hanya itu, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh cadangan devisa (cadev) yang menghasilkan imbal hasil lebih tinggi karena suku bunga global yang masih berada pada level tinggi.

Di sisi pengeluaran, Perry menyebutkan bahwa BI akan tetap melaksanakan mandatnya dalam operasional moneter dengan hati-hati dan efisien. 

"Tentu untuk bidang pengeluaran tentu terkait pelaksanaan mandat BI untuk operasi moneter," katanya.

Baca Juga: Hati-Hati, Pertumbuhan Ekonomi Semester II 2024 Belum Pasti Mendaki

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU

[X]
×