kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.781.000   -38.000   -2,09%
  • USD/IDR 16.565   165,00   0,99%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Begini manfaat kerja sama LCS menurut ekonom LPEM FEB UI


Rabu, 11 Agustus 2021 / 18:21 WIB
 Begini manfaat kerja sama LCS menurut ekonom LPEM FEB UI
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Menteri Keuangan Jepang Taro Aso menyepakati kerangka kerja sama penggunaan mata uang lokal yakni rupiah dan yen untuk transaksi perdagangan bilateral dan investasi langsung (local currency settlement (LCS)


Reporter: Bidara Pink | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Upaya Bank Indonesia (BI) memasarkan kerangka penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi dengan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS) terlihat berbuah manis. 

Saat ini, BI sudah menjalin kerja sama LCS dengan sejumlah negara, seperti Thailand, Malaysia, dan Jepang. Selain itu, kini bank sentral tersebut juga sedang dalam proses finalisasi dengan China. 

Nah, BI mengatakan, porsi transaksi LCS terhadap perdagangan terus meningkat selama ini. Terutama, dengan Malaysia dan Jepang. Sehingga, BI pun melakukan penguatan kerja sama terhadap kedua negara ini. 

Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyambut positif adanya penggunaan mata uang lokal terhadap transaksi perdagangan. Menurutnya, ini membawa keuntungan bagi para pelaku usaha dan memberi angin segar terhadap prospek nilai tukar rupiah. 

Baca Juga: BI jajaki kerja sama LCS dengan Filipina, Korea Selatan, dan India

“Kalau kepada eksportir dan importir, ini akan mengurangi biaya transaksi karena bisa menyelesaikan perdagangan dengan rupiah dan dengan ringgit atau yen tanpa harus menukar dulu ke dolar Amerika Serikat (AS). Jadi ini bisa mengurangi dampak volatilitas dolar AS,” ujar dia kepada Kontan.co.id, Senin (9/8). 

Riefky menambahkan, skema ini meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan, karena dengan biaya yang turun, maka margin transaksi turun, sehingga ada potensi peningkatan volume perdagangan. Meski memang tidak signifikan. 

Lebih lanjut, meski memang dalam tren yang positif, tetapi ia melihat presentasi penggunaan masih relatif terbatas. 

Ia menduga, ini tak lepas dari efek pandemi Covid-19 yang membuat volume perdagangan ikut menurun. Selain itu, bisa juga terjadi karena sosialisasi terkait LCS belum masif sehingga banyak pelaku perdagangan yang masih belum familiar terkait hal ini.

Untuk itu, ia mengimbau BI untuk melakukan sosialisasi yang lebih luas terhadap pelaku usaha. Bahkan, bank-bank yang ditunjuk untuk melaksanakan transaksi mata uang atau appointed cross currency dealer (ACCD) juga diharapkan aktif menyosialisasikan ini. 

Selanjutnya: Manfaat penyelesaian transaksi perdagangan dengan mata uang lokal (LCS)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU

[X]
×