kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   19.000   0,67%
  • USD/IDR 17.122   66,00   0,39%
  • IDX 6.952   -37,72   -0,54%
  • KOMPAS100 955   -10,05   -1,04%
  • LQ45 699   -8,32   -1,18%
  • ISSI 249   -0,82   -0,33%
  • IDX30 381   -6,69   -1,72%
  • IDXHIDIV20 472   -9,17   -1,90%
  • IDX80 108   -1,11   -1,02%
  • IDXV30 131   -1,90   -1,43%
  • IDXQ30 124   -2,36   -1,87%

Baru 3 Bulan Berjalan, Anggaran Pemerintah Sudah Tekor Rp 240 Triliun


Selasa, 07 April 2026 / 13:04 WIB
Diperbarui Selasa, 07 April 2026 / 13:05 WIB
Baru 3 Bulan Berjalan, Anggaran Pemerintah Sudah Tekor Rp 240 Triliun
ILUSTRASI. Baru 3 Bulan Berjalan, Anggaran Pemerintah Sudah Tekor Rp 240 Triliun


Reporter: Adi Wikanto, Dendi Siswanto | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID - Jakarta. Baru berjalan tiga bulan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 sudah defisit lebih dari Rp 200 triliun. Defisit APBN 2026 berpotensi semakin besar akibat penambahan subsidi bahan bakar minyak (BBM). 

Diberitakan Kompas.com, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat defisit sebesar Rp 240,1 triliun hingga Maret 2026. Angka ini setara dengan 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa defisit pada awal tahun merupakan bagian dari desain anggaran pemerintah.

“Ketika ada defisit, masyarakat tidak perlu kaget. Memang anggaran kita didesain defisit. Jika belanja lebih merata sepanjang tahun, seharusnya kuartal pertama ini defisitnya bisa lebih besar dibandingkan tahun lalu,” ujar Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026).

Baca Juga: Ada Isu Reshuffle Kabinet, Seskab Teddy: Tunggu Saja

Pendapatan dan Belanja Negara

Pendapatan negara tercatat sebesar Rp 574,9 triliun atau 18,2 persen dari target APBN 2026 sebesar Rp 3.153,6 triliun. Realisasi ini tumbuh 10,5 persen secara tahunan.

Sementara itu, belanja negara mencapai Rp 815 triliun atau 21,2 persen dari pagu anggaran. Angka ini meningkat signifikan sebesar 31,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan belanja yang lebih cepat dibandingkan pendapatan menjadi faktor utama terjadinya defisit pada awal tahun.

Keseimbangan Primer dan Pembiayaan

Keseimbangan primer juga mencatatkan defisit sebesar Rp 95,8 triliun.

Di sisi lain, realisasi pembiayaan anggaran telah mencapai Rp 257,4 triliun atau 37,3 persen dari target yang ditetapkan.

Tonton: Pertamina Patra Niaga Kerahan 148 Kapal Amankan Pasokan BBM dan LPG ke Wilayah 3T

Ekonomi Domestik Masih Solid

Pemerintah menilai kondisi ekonomi domestik tetap terjaga di tengah tekanan global. Sejumlah indikator menunjukkan ketahanan ekonomi nasional.

Aktivitas industri masih berada di zona ekspansi selama delapan bulan berturut-turut. Indeks PMI manufaktur tercatat di level 51,1 pada Maret 2026.

Likuiditas juga meningkat, dengan uang beredar dalam arti sempit tumbuh mendekati 20 persen secara tahunan hingga pekan ketiga Maret.

Kredit, Ekspor, dan Cadangan Devisa Positif

Pertumbuhan kredit investasi mencapai 20,7 persen, menunjukkan optimisme pelaku usaha terhadap perekonomian.

Dari sisi eksternal, kinerja tetap terjaga. Neraca perdagangan mencatat surplus, sementara cadangan devisa berada pada level yang setara dengan 5,9 bulan impor.

Tonton: Harga Minyak Naik, Defisit Transaksi Berjalan Berpotensi Melebar, Rupiah Tertekan

Daya Beli dan Inflasi Tetap Terkendali

Daya beli masyarakat dinilai masih kuat, tercermin dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga, penjualan ritel, serta penjualan kendaraan.

Pemerintah juga menilai tekanan inflasi saat ini lebih dipengaruhi faktor teknis, seperti efek basis, bukan karena pelemahan fundamental ekonomi.

Dengan kondisi tersebut, pemerintah optimistis defisit APBN tetap terkendali sesuai target yang telah ditetapkan sepanjang 2026.

Potensi Defisit Anggaran Membesar 

Defisit APBN 2026 berpotensi membengkak akibat penambahan anggaran subsidi energi, khususnya BBM. Diberitakan sebelumnya, Menkeu Purbawa memperkirakan kebutuhan tambahan anggaran subsidi BBM dapat mencapai Rp 90 triliun hingga Rp 100 triliun. 

Kendati begitu, Purbaya menjelaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan hanya mencakup komponen subsidi, belum termasuk kompensasi.

"Sekitar Rp 90 triliun sampai Rp 100 triliun (tambahan subsidi). Nanti kita hitung lagi," kata Purbaya kepada awak media di Gedung Danantara, Rabu (1/4/2026).

"Itu (hanya) subsidi. kompensasi kan lain lagi hitungannya," imbuhnya.

Meski demikian, Purbaya menyatakan pemerintah masih memiliki ruang fiskal yang cukup longgar untuk mengantisipasi tekanan tambahan belanja subsidi energi.

"Jadi ruang (fiskal) kita masih terbuka lebar sebetulnya. Jadi Anda ngak perlu takut dengan kondisi APBN," kata Purbaya.

Terkait sumber pembiayaan tambahan anggaran tersebut, pemerintah akan mengandalkan efisiensi belanja kementerian dan lembaga melalui beberapa tahap penghematan.



Sebagian artikel bersumber: https://money.kompas.com/read/2026/04/06/124406126/defisit-apbn-tembus-rp-2401-triliun-per-maret-2026-purbaya-sebut-sesuai-desain.

BNI Resmi Tutup Internet Banking! Nasabah Wajib Pindah Sekarang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×