kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45725,83   16,46   2.32%
  • EMAS914.000 0,11%
  • RD.SAHAM 0.55%
  • RD.CAMPURAN 0.20%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Bappenas rumuskan new normal, protokol aktivitas bebas corona


Jumat, 22 Mei 2020 / 18:57 WIB
Bappenas rumuskan new normal, protokol aktivitas bebas corona
Menteri PPN/Bappenas Suharso Monoarfa memberikan sambutan saat peresmian pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/12/2019). TR

Reporter: Markus Sumartomdjon | Editor: Markus Sumartomjon

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian PPN/Bappenas saat ini tengah merumuskan protokol kegiatan masyarakat untuk menghadapi tatanan baru di tengah pandemi corona atau the new normal. Protokol tersebut berlabel protokol masyarakat produktif dan aman Covid-19. 

Hal ini disampaikan Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa bersama WHO Representative to Indonesia N. Paranietharan dan Tim Pakar Modeling Tim Pakar Gugus Tugas Covid-19 Panji Fortuna Hadisoemarto saat paparan virtual, Kamis (21/5).

Baca Juga: Gubernur Khofifah mengajak bersilaturrahmi Idul Fitri secara online

Berkaca dari pengalaman keberhasilan negara lain dalam menangani pandemi Covid-19, ada prasyarat yang diperlukan untuk bisa menjamin produktivitas dan keamanan masyarakat. Yang pertama adalah  penggunaan data dan keilmuan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk penyesuaian Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Baca Juga: Ada Plex’Eat, pelindung diri bagi pengunjung saat bersantap di restoran

Syarat kedua yakni penyesuaian PSBB dilakukan melalui beberapa tahapan dan zona. Syarat ketiga, dilakukan penerapan protokol kesehatan yang ketat melalui disiplin dan pengawasan oleh apparat.

Baca Juga: Gawat, jumlah orang positif corona di Jatim melonjak drastis

Keempat, harus ada review pelaksanaan penyesuaian PSBB yang dapat menimbulkan efek jera sehingga dimungkinkan adanya pemberlakuan kembali PSBB secara ketat apabila masyarakat tidak disiplin dalam beraktivitas. Prasyarat ini digunakan untuk menentukan kriteria dan langkah kesehatan yang perlu dilakukan dalam menentukan kebijakan penyesuaian pembatasan sosial. 
 
Nah, ketika ada daerah yang akan menyesuaikan PSBB, dalam arti diperlonggar, menurut Suharso juga harus bisa memenuhi tiga kriteria. Kriteria pertama dan menjadi syarat mutlak adalah epidemiologi, yaitu angka reproduksi efektif atau Rt<1 (kurang dari 1) selama dua minggu berturut-turut. Artinya, angka kasus baru telah menurun setidaknya selama dua minggu berturut-turut. 

Kriteria kedua adalah kapasitas sistem pelayanan kesehatan yang mensyaratkan kapasitas maksimal tempat tidur rumah sakit dan instalasi gawat darurat untuk perawatan Covid-19 lebih besar dari jumlah kasus baru yang memerlukan perawatan di rumah sakit.

Kriteria ketiga adalah surveilans, artinya kapasitas tes swab yang cukup.  Sesuai dengan kriteria tersebut, beberapa daerah yang telah memenuhi kriteria dapat melakukan penyesuaian PSBB. 

Namun demikian, penerapan protokol Covid-19 sebagai new normal atau menuju tatanan kehidupan normal baru yang berdampingan dengan virus corona harus tetap diterapkan secara ketat. Pemantauan pelaksanaan protokol harus dilakukan secara rutin dan evaluasi terhadap dampak kebijakan juga dilakukan. Jika kemudian kasus kembali meningkat, maka pelaksanaan PSBB dapat diterapkan kembali.
 
“Jika Rt<1 dan penurunan kasus yang diikuti dengan pengurangan PSBB, bukan berarti virus sudah hilang, tetapi penyebaran virus sudah dapat dikendalikan. Oleh karena itu, masyarakat akan menuju normal baru beberapa bulan ke depan atau setidaknya sampai tersedia vaksin dan obat Covid-19 atau kasus Covid-19 dapat ditekan menjadi sangat kecil,” kata Suharso.

Adapun penerapan tatanan hidup normal baru antara lain adalah mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer secara rutin, pemakaian masker dan jaga jarak (physical distancing), penyediaan tes Covid-19, serta tetap dilakukannya tracing, test, dan isolasi secara sistematis.

Untuk itu ada beberapa hal penting yang menjadi perhatian bersama. Pertama, dalam beberapa minggu kedepan akan menjadi masa kritis karena ada potensi meningkatnya penyebaran kasus Covid-19 karena memasuki masa Idul Fitri,  salat Id berjamaah, berkumpulnya masyarakat untuk silaturahmi, dan potensi arus mudik juga arus balik.

Kedua, penerapan disiplin tinggi dalam implementasi protokol kesehatan Covid-19 seperti hidup bersih dan sehat (cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer dan penggunaan masker), physical distancing, pelaporan kasus secara mandiri, dan kontrol sosial.

Ketiga, proses adaptasi dengan kehidupan tatanan normal baru, terutama perubahan kebijakan dan aturan sesuai perkembangan Covid-19, optimalisasi teknologi digital, dan pelaksanaan protokol Covid-19 secara konsisten. 

Untuk membantu penerapan the new normal, Kementerian PPN/Bappenas berencana meluncurkan dashboard angka reproduksi efektif atau Rt yang diperbaharui secara harian untuk memantau perkembangan kasus sehingga dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi berkala terkait efektivitas pelaksanaan kebijakan Covid-19.
 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×