Sumber: Reuters | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Indonesia, sebagai produsen terbesar batu bara termal dan nikel, berpeluang melonggarkan kuota produksi untuk kedua komoditas tersebut apabila harga tetap tinggi. Hal itu disampaikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
“Jika harga tetap stabil dan baik, kami mungkin akan melakukan apa yang disebut pelonggaran terukur terhadap rencana produksi,” ujar Bahlil dalam pernyataan pada Rabu (25/3/2026) malam setelah pertemuan dengan Presiden Prabowo seperti yang dilansir Reuters.
“Semua masih dikoordinasikan dengan kondisi pasar serta keseimbangan pasokan dan permintaan,” tambahnya.
Sebelumnya, Indonesia mengumumkan rencana untuk memangkas kuota produksi tambang untuk sejumlah mineral guna menopang harga sepanjang tahun ini.
Baca Juga: Harga Batubara Naik, Pemerintah Optimistis jadi Tambahan Penerimaan Negara
Indonesia juga mengumumkan rencana untuk menurunkan kuota produksi batu bara menjadi 600 juta metrik ton, dari sekitar 790 juta ton yang diproduksi tahun lalu.
Sementara itu, kuota produksi bijih nikel yang dikenal sebagai RKAB ditetapkan pada kisaran 260 juta hingga 270 juta ton, menurut Kementerian ESDM.
Angka tersebut lebih rendah dibanding kebutuhan yang diperkirakan mencapai sekitar 340 juta hingga 350 juta ton, berdasarkan estimasi Asosiasi Smelter Nikel Indonesia (FINI).
RKAB sendiri dapat direvisi. Seluruh perusahaan tambang di Indonesia yang kaya mineral diwajibkan menyerahkan rencana produksi tahunan mereka kepada Kementerian ESDM untuk mendapat persetujuan akhir pemerintah.
Tonton: Respons Gejolak Energi, Pemerintah Siapkan Stimulus Ekonomi Baru
Indonesia merupakan eksportir terbesar di dunia untuk batu bara termal serta produk nikel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













