kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45873,69   -12,49   -1.41%
  • EMAS1.329.000 -0,67%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Awal Puasa Berpotensi Sama, Lebaran Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan BRIN


Jumat, 17 Maret 2023 / 04:26 WIB
Awal Puasa Berpotensi Sama, Lebaran Berpotensi Berbeda, Ini Penjelasan BRIN
ILUSTRASI. Penentuan awal Ramadan dan hari raya Idul Fitri kerap berbeda antara lembaga keagaamaan yang satu dengan yang lain. ANTARA FOTO/Kornelis Kaha


Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penentuan awal Ramadan dan hari raya Idul Fitri kerap berbeda antara lembaga keagaamaan yang satu dengan yang lain. Tak pelak, hal tersebut masih sering diperdebatkan hingga saat ini. 

Perbedaan muncul bukan dikarenakan metode hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan), tetapi karena perbedaan kriteria. 

Melansir laman infopublik.id, kriteria Wujudul Hilal digunakan Muhammadiyah. Sedangkan kriteria Imkan Rukyat digunakan oleh NU dan beberapa ormas lain.

Ilmu Astronomi hadir  untuk memberikan kemudahan dalam penentuan kriteria yang bisa disepakati bersama.

Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama RI mengatakan penentuan awal bulan memerlukan kriteria agar bisa disepakati bersama. 

Rukyat memerlukan verifikasi kriteria untuk menghindari kemungkinan rukyat keliru. Hisab tidak bisa menentukan masuknya awal bulan tanpa adanya kriteria.

aBaca Juga: Kapan 1 Ramadhan 2023? Klik hilal.bmkg.go.id untuk Informasi Hilal Awal Puasa

“Sehingga kriteria menjadi dasar pembuatan kalender berbasis hisab yang dapat digunakan dalam prakiraan rukyat," ungkap Thomas Djamaluddin pada Media Lounge Discussion mengusung tema “Pertimbangan Astronomis dalam Penentuan Ramadan, Syawal, dan Dzuhijjah di Lobby Gedung BJ Habibie, BRIN, Jakarta, Kamis (16/3/2023).

Lebih lanjut Thomas menjelaskan, kriteria hilal yang diadopsi adalah kriteria berdasarkan pada dalil syar’i (hukum agama) tentang awal bulan dan hasil kajian astronomis yang sahih. 

Kriteria juga harus mengupayakan titik temu pengamal rukyat dan pengamal hisab, untuk menjadi kesepakatan bersama. Termasuk Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).

Thomas menyebut ada potensi kesamaan awal Ramadan. Apabila saat maghrib 22 Maret 2023 di Indonesia posisi bulan sudah memenuhi kriteria baru MABIMS, yaitu dengan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat (3-6,4). Dan pada saat bersamaan juga sudah memenuhi kriteria  Wujudul Hilal (WH). Sehingga dua kriteria tersebut menjadi seragam, baik versi 3-6,4 dan WH bahwa 1 Ramadan 1444 pada 23 Maret 2023.

Baca Juga: Muhammadiyah: 1 Ramadhan 23 Maret 2023, Pemerintah Kapan? Ini Jadwal Sidang Isbat




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×