Sumber: Kompas.com | Editor: Wahyu T.Rahmawati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah berencana untuk menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi pertalite dan solar. Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, harga BBM subsidi saat ini telah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 502 triliun.
Akun Instagram resmi Kementerian Keuangan (Kemenkeu) @KemenkeuRI, Sabtu (27/8) menyebutkan bahwa subsidi yang dibayarkan pemerintah lebih banyak untuk BBM yang biasa dipakai.
Adapun harga bahan bakar terkini, pertama, solar seharusnya memiliki harga Rp 13.950 per liter, namun harga yang dijual ecer menjadi Rp 5.150 per liter. Harga ini memiliki selisih sebesar Rp 8.800 dengan subsidi 63,1%.
Pertalite, seharusnya memiliki harga Rp 14.450 per liter, namun harga yang dijual ecer menjadi Rp 7.650 per liter. Harga ini memiliki selisih sebesar Rp 6.800 dengan subsidi 47,1%.
Baca Juga: BI Memperkirakan Deflasi 0,13% di Pekan Keempat Agustus 2022
Pemerintah sudah melakukan penyesuaian anggaran Subsidi dan Kompensasi BBM dari awalnya Rp 152,5 triliun kemudian naik menjadi Rp 502,4 triliun yang mengacu pada Perpres 98/2022. Angka ini dinilai cukup tinggi.
Karenanya, jika kebijakan subsidi ini tidak diubah, anggaran bisa semakin bengkak menjadikan Rp 698 triliun. Lantas, apa penyebab anggaran menjadi bengkak hingga Rp 698 triliun jika BBM subsidi tak naik?
Pertama, harga minyak mentah masih terus menunjukkan kenaikan dari US$ 100 per barel menjadi US$ 105 per barel. Kedua, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS yang semula diasumsikan sebesar Rp 14.450 per dolar AS, kini semakin melemah menjadi ke level Rp 14.700 per dolar AS.
Baca Juga: Masih Dihitung, Menteri ESDM: Penyesuaian Harga BBM Subsidi Belum Diumumkan Pekan Ini
Kondisi depresiasi rupiah ini membuat Indonesia harus membayar lebih mahal untuk impor minyak mentah. Kemudian, volume konsumsi masyarakat terhadap pertalite dan solar meningkat yaitu pertalite dari 23,05 juta kiloliter menjadi 29,07 juta kiloliter. Sedangkan, solar dari 15 juta kiloliter naik menjadi 17,44 juta kiloliter.
Apakah BBM subsidi tepat sasaran? Menurut data Kemenkeu, 89% BBM solar dipakai dunia usaha dan hanya 11% dipakai rumah tangga. Adapun dari yang dipakai rumah tangga tersebut, 95% dipakai rumah tangga yang mampu dan 5% dinikmati rumah tangga miskin.
Sementara untuk pertalite, 85% dipakai rumah tangga mampu dan 20% dinikmati rumah tangga miskin. Sedangkan, 14% dinikmati dunia usaha.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Seputar Rencana Kenaikan Harga BBM Subsidi: Banyak Dinikmati Orang Kaya hingga Anggaran Bengkak.
Penulis: Haryanti Puspa Sari
Editor: Erlangga Djumena
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












