kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   11.000   0,41%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Analis memproyeksi BI masih akan menahan suku bunga pada RDG pekan depan


Minggu, 12 Desember 2021 / 14:51 WIB
ILUSTRASI. Layar menampilkan logo Bank Indonesia (BI) di Jakarta. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pekan depan, tepatnya 15-16 Desember 2021, Bank Indonesia (BI) akan menggelar rapat dewan gubernur (RDG) terakhir di tahun 2021. Sejumlah analis memproyeksikan bank sentral akan menahan suku bunga acuannya di level 3,5%.

Analis Phillip Sekuritas Indonesia Dustin Dana Pramitha menilai, BI masih berpeluang menahan tingkat suku bunga di RDG pekan depan. Sejumlah faktor dinilai bisa menjadi pertimbangan, di antaranya masih perlunya BI memberikan stimulus kepada beberapa sektor. 

Hal ini tercermin dari suku bunga dasar kredit (SBDK) perbankan yang hingga saat ini masih terpantau turun seiring dengan turunnya suku bunga kredit baru, yang ditujukan untuk meningkatkan permintaan kredit baru.

“Apalagi dengan upaya pemerintah menggerakkan roda perekonomian, tentu kebijakan suku bunga rendah akan tetap dibutuhkan,” terang Dustin kepada Kontan.co.id, Minggu (12/12).

Baca Juga: Andry Asmoro: Ekonomi Tahun Depan Bisa Tumbuh 5,17%

Senada, Analis Binaartha Sekuritas Lingga Pratiwi memperkirakan BI masih akan menahan suku bunga dan terus memantau dinamika perkembangan global, seperti dinamika kebijakan pengetatan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed.

Adapun data terkini tingkat klaim pengangguran AS hanya sejumlah 184.000 orang atau terendah selama 59 tahun. Hal ini memicu kekhawatiran semakin meningkatnya inflasi akibat banyaknya orang yang bekerja kembali, yang menandakan tingkat pertumbuhan ekonomi yang meningkat.

Kenaikan inflasi di AS berpotensi memicu kekhawatiran terhadap percepatan tapering yang akan segera disusul oleh kenaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga 25-50 basis point (bps) menuju antara 0,25%-0,50% akan setara dengan suku bunga rupiah di kisaran 3,26% dan 3,51%.

“Kondisi ini dengan sendirinya mungkin saja akan membuat Bank Indonesia berpotensi melakukan kebijakan ahead of the curve alias menaikkan suku bunga antara Januari-Maret 2022,” terang Lingga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×