Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika Serikat (AS) terus mengalami pelemahan.
Per Selasa (28/4/2026) pagi, nilai tukar rupiah melemah 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp 17.223 dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.211 per dolar AS.
Kondisi pelemahan Rupiah telah memicu kekhawatiran di media sosial. Sejumlah unggahan bahkan membahas skenario jika Rupiah melemah hingga Rp 20.000 per dollar AS.
“Skenario terburuk, apa yang terjadi kalau Dolar tembus Rp 20.000 besok?” tulis akun @din********* pada Minggu (26/4/2026).
Dalam unggahan tersebut disebutkan bahwa dampaknya bisa berupa kenaikan harga bahan pokok seperti mi instan dan tempe, meningkatnya harga barang elektronik seperti gadget dan laptop, hingga naiknya biaya pendidikan.
Lalu, apa sebenarnya dampak jika Dollar AS benar-benar menembus Rp 20.000, dan apa penyebab pelemahan Rupiah saat ini?
Dampak jika 1 Dollar AS tembus Rp 20.000
Ekonom Senior Universitas Paramadina sekaligus praktisi kebijakan publik, Wijayanto Samirin, mengatakan ada sejumlah dampak yang dapat terjadi jika nilai tukar mencapai level tersebut.
“Tidak diharapkan 1 USD mencapai Rp 20.000 dalam waktu dekat. Namun jika itu terjadi, dampaknya akan segera terasa,” ujarnya, saat dimintai pandangan Kompas.com, Senin (27/4/2026).
Beberapa dampak tersebut antara lain:
- Inflasi meningkat, akibat kenaikan harga barang impor (imported inflation).
- Cicilan utang luar negeri naik, baik pemerintah maupun swasta karena nilai rupiah melemah.
- Capital outflow meningkat, karena kepercayaan terhadap Rupiah menurun sehingga menekan nilai tukar lebih jauh.
Baca Juga: Jelang Batas Pelaporan, Wajib Pajak Ramai Cari Pendampingan Isi SPT
Penyebab pelemahan nilai tukar rupiah
Wijayanto mengatakan, penyebab pelemahan nilai tukar Rupiah merupakan kombinasi dari banyak faktor. Berikut di antaranya:
1. Komunikasi yang buruk dari pemerintah
Wijayanto mengatakan, komunikasi yang buruk dari pemerintah, terkhusus Menteri Keuangan dalam 1-2 minggu terakhir menjadi salah satu penyebabnya.
"Misalnya terkait ide memajaki Selat Malaka dan menolak tawaran utang Dana Moneter Internasional (IMF)," kata Wijayanto.
Menurutnya, hal ini justru mengindikasikan bahwa IMF menilai Indonesia mengalami kesulitan fiskal sehingga menawarkan utang tersebut.
Selain itu, pernyataan tidak umum terkait komitmen S&P (Standard & Poor's), salah satu lembaga pemeringkat kredit terbesar di dunia, yang menjamin rating Indonesia tidak berubah dalam 2 tahun ke depan, juga dinilai Wijayanto menjadi faktornya.
"Kemudian, beberapa kritik yang tidak proper ke investor dan berbagai lembaga keuangan asing," tambah Wijayanto.
2. Kebijakan fiskal jauh dari stabil dan tidak berkepanjangan
Wijayanto mengatakan bahwa kebijakan fiskal Indonesia saat ini dinilai jauh dari solid dan sustainable.
"Upaya penghematan tidak dilakukan secara menyeluruh terlihat dari pemerintah yang tetap mempertahankan program-program mahal," katanya.
3. Defisit Primary Income
Struktur Balance of Payment (Neraca Pembayaran) Indonesia juga dinilai Wijayanto mengalami defisit primary income, yakni arus uang keluar ke investor asing lebih besar dari yang masuk.
"Akhir-akhir ini kita mengalami defisit primary income yang semakin besar, artinya banyak devisa keluar untuk membayar return investasi asing dan dividennya," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa tahun 2025, nilai defisit tersebut sangat besar hingga mencapai US$ 38,2 miliar (sekitar Rp 657 triliun kurs hari Senin, 27/4/20266).
Baca Juga: Menkomdigi: TikTok Telah Tutup 1,7 Juta Akun Anak dalam Satu Bulan
Nominal tersebut bahkan sudah jauh lebih besar dari investasi langsung dari asing (FDI) yang masuk yakni hampir 3 kali lipat.
"Lalu, di tahun yang sama investasi portfolio juga mengalami net outflow US$ 9,4 miliar. Tren ini diperkirakan akan berlanjut di tahun 2026, dan tahun-tahun berikutnya," tambah Wijayanto.
Ia mengatakan, nilai tukar mata uang pada akhirnya menggambarkan daya saing dan produktifitas ekonomi suatu negara.
"BI terlihat sudah berupaya maksimal melakukan intervensi untuk menjaga nilai tukar Rupiah, tetapi ini tidak akan berhasil jika Pemerintah tidak mengimbangi," kata Wijayanto.
Menurutnya, pemerintah mesti membenahi dan memperbaiki gaya komunikasi, kemudian memperbaiki soliditas APBN, memperbaiki iklim investasi dan iklim usaha, dan secara serius berupaya memperbaiki strultur neraca pembayaran Indonesia.
Tonton: Cak Imin Minta Kelas Menengah Bersabar: Pemerintah Fokus Hapus Kemiskinan Ekstrem!
"Hal yang terakhir ini memerlukan effort jangka panjang lintas bidang, baik itu kebijakan fiskal, moneter, maupun sektoral," jelas Wijayanto.
(Fatimah Az Zahra, Irawan Sapto Adhi)
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/04/28/130000965/apa-jadinya-jika-rupiah-sampai-tembus-rp-20.000-per-dollar-as-ekonom
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













