Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Pelemahan rupiah terhadap dolar Singapura dinilai menjadi alarm baru yang perlu diwaspadai pemerintah dan pelaku pasar. Pasalnya, tekanan terhadap mata uang Garuda kini tidak hanya datang dari penguatan dollar Amerika Serikat (AS), tetapi juga dari mata uang regional di Asia Tenggara.
Pengamat ekonomi dari Universitas Airlangga Rahma Gafmi mengatakan, selama ini pelemahan rupiah kerap dikaitkan dengan kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed) dan ketegangan geopolitik global yang mendorong penguatan dollar AS.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan rupiah juga semakin tertekan terhadap dollar Singapura.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya divergensi kekuatan ekonomi di level regional. Apalagi, Singapura merupakan pusat finansial dan perdagangan utama di kawasan yang memiliki keterkaitan erat dengan Indonesia.
"Rupiah tidak hanya bertekuk lutut di hadapan Washington (dolar AS), tetapi juga semakin tidak berdaya melawan Singapura (dollar Singapura)," ujar Rahma dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Terpisah, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk Josua Pardede mengatakan, indeks dolar AS (DXY) secara year to date (ytd) sebenarnya tidak mengalami penguatan signifikan, yakni hanya sekitar 0,9% per 22 Mei 2026.
Baca Juga: Inspektorat Tingkatkan Pengawasan Haji Selama di Mina
Namun rupiah justru melemah lebih dari 5% (ytd) terhadap dolar AS. Bahkan dibandingkan mayoritas mata uang regional, rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia tahun ini.
Rupiah tercatat hanya menguat terhadap rupee India sebesar 0,8% (ytd).
Pelemahan terdalam terjadi terhadap ringgit Malaysia dan dollar Singapura. Berdasarkan catatan Permata Institute for Economic Research (PIER), rupiah melemah sekitar 6% terhadap dolar Singapura dan lebih dari 7% terhadap ringgit Malaysia secara ytd.
"Yang paling dalam kita melemah terhadap ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Dollar Singapura, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan," ujarnya saat media briefing di Makassar, 22 Mei 2026.
Penyebab dolar Singapura perkasa lawan rupiah
Rahma menjelaskan, salah satu faktor utama yang membuat dolar Singapura lebih tangguh dibanding rupiah adalah perbedaan strategi kebijakan moneter antara Indonesia dan Singapura.
Jika Bank Indonesia (BI) menggunakan suku bunga sebagai instrumen utama pengendalian inflasi, Monetary Authority of Singapore (MAS) justru menggunakan nilai tukar sebagai alat utama kebijakan moneter.
Singapura mengelola mata uangnya melalui mekanisme Nominal Effective Exchange Rate (NEER), yakni pengaturan dollar Singapura terhadap mata uang mitra dagang utama.
Dalam kondisi inflasi global tinggi, MAS cenderung membiarkan dollar Singapura terapresiasi agar harga barang impor tetap murah dan inflasi domestik lebih terkendali.
Perbedaan mendasar ini, kata Rahma, yang menciptakan dinamika yang timpang.
Kebijakan BI seringkali bersifat defensif yaitu menaikkan bunga untuk menjaga agar modal tidak keluar sedangkan kebijakan MAS bersifat proaktif-strategis dengan menggunakan kekuatan mata uang untuk membentengi ekonomi.
"Dampaknya terhadap Rupiah, adalah saat MAS memilih jalur apresiasi untuk menjaga ekonomi mereka, sementara Rupiah masih berjuang melawan defisit transaksi berjalan atau fluktuasi komoditas, maka secara otomatis cross-rate antara SGD dan Rupiah akan semakin melebar," jelas Rahma.
Baca Juga: Aturan DHE SDA & Badan Ekspor Berlaku, Rupiah Kuat Serta Penerimaan Negara Bertambah
Di sisi lain, Josua menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi faktor domestik yang membuat pergerakan rupiah tidak sejalan dengan indeks dollar AS global.
Menurut Josua, terdapat deviasi yang cukup menarik antara pergerakan DXY dan rupiah sepanjang tahun ini. Hal tersebut mengindikasikan adanya tekanan domestik yang ikut memperlemah nilai tukar rupiah.
Josua menjelaskan, salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan permintaan dollar AS pada Kuartal II 2026 adalah pembayaran dividen perusahaan-perusahaan besar.
Momentum pembagian dividen emiten yang mayoritas berlangsung pada Mei membuat kebutuhan valuta asing meningkat signifikan.
"Jadi itu sangat wajar bahwa akan ada peningkatan permintaan dollar AS di kuartal II ini. Itu mau ditaruh mana saja itu gak akan bisa mundur. Sama juga, bertepatan juga dengan tadi adalah haji, musim haji," ungkap Josua.
Dampak ke Indonesia
Rahma mengungkapkan, penguatan dolar Singapura terhadap rupiah perlu dipandang serius karena berdampak langsung terhadap biaya logistik, impor jasa, hingga transaksi korporasi Indonesia.
Mengingat sebagian besar barang impor nasional, termasuk bahan baku dan barang modal, banyak melalui jalur distribusi Singapura.
"Singapura bukan sekadar tetangga, namun sebagai pusat finansial regional. Karena Singapura mempunyai hubungan perdagangan dan finansial utama bagi Indonesia," kata Rahma.
Selain itu, lemahnya mata uang rupiah terhadap dollar Singapura bakal memukul masyarakat kelas menengah di Indonesia.
Pasalnya, Singapura adalah destinasi pendidikan, kesehatan, dan pariwisata sehingga ketika rupiah terjepit di bawah bayang-bayang dolar AS, biaya hidup dan akses terhadap layanan berkualitas di tingkat regional menjadi kian tak terjangkau.
Rahma menambahkan, tekanan rupiah terhadap dolar Singapura juga berpotensi memperbesar beban subsidi energi dan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.
Sebab, sebagian perdagangan produk minyak di kawasan Asia mengacu pada pasar Singapura atau Mean of Platts Singapore (MOPS).
Tonton: Bolak-Balik Ke Prancis, Kunjungan Presiden Prabowo Tuai Sorotan!
"Pelemahan rupiah terhadap SGD menciptakan tekanan tambahan pada subsidi energi maupun harga BBM nonsubsidi yang akhirnya bisa memicu inflasi domestik," ucap Rahma.
Perlu diingat pula, Singapura merupakan penyedia jasa utama bagi korporasi Indonesia, mulai dari jasa konsultan, hukum, hingga teknologi informasi.
Dengan begitu, pelemahan rupiah terhadap dolar AS adalah inflasi tersembunyi. Jika pelemahan terhadap dollar AS berdampak pada harga komoditas global, maka pelemahan terhadap SGD berdampak langsung pada biaya efisiensi.
"Semakin lemah Rupiah terhadap mata uang hub regional ini, semakin tidak kompetitif industri manufaktur kita yang masih sangat bergantung pada rantai pasok global yang melewati Singapura," tuturnya.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Dollar Singapura bagi Indonesia
| Sektor | Dampak |
|---|---|
| Impor dan Logistik | Biaya impor dan distribusi meningkat |
| Energi dan BBM | Tekanan tambahan pada subsidi energi dan BBM |
| Pendidikan dan Kesehatan | Biaya layanan di Singapura makin mahal |
| Industri Manufaktur | Beban rantai pasok global meningkat |
| Korporasi | Jasa konsultan, hukum, dan IT jadi lebih mahal |
(Isna Rifka Sri Rahayu, Sakina Rakhma Diah Setiawan)
Sumber: https://money.kompas.com/read/2026/05/28/162304826/rupiah-juga-anjlok-terhadap-dollar-singapura-apa-dampaknya-bagi-ri?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













