kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.844.000   -183.000   -6,05%
  • USD/IDR 16.765   -30,00   -0,18%
  • IDX 8.090   167,33   2,11%
  • KOMPAS100 1.132   23,95   2,16%
  • LQ45 820   13,33   1,65%
  • ISSI 288   9,46   3,40%
  • IDX30 428   6,84   1,63%
  • IDXHIDIV20 513   7,59   1,50%
  • IDX80 126   2,53   2,05%
  • IDXV30 140   4,80   3,55%
  • IDXQ30 139   1,54   1,12%

ADBI Kaji Jalan Indonesia Keluar dari Jebakan Negara Berpendapatan Menengah


Selasa, 03 Februari 2026 / 14:23 WIB
ADBI Kaji Jalan Indonesia Keluar dari Jebakan Negara Berpendapatan Menengah
ILUSTRASI. Upah Pekerja Sarjana-Pekerja komuter di Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Asian Development Bank Institute (ADBI) tengah melakukan studi unggulan (flagship study) mengenai strategi menghindari middle-income trap bagi negara-negara Asia berpendapatan menengah atas. Indonesia menjadi salah satu fokus utama dalam kajian tersebut.

Dean and CEO ADBI Bambang Brodjonegoro menjelaskan, studi ini dilatarbelakangi oleh pergeseran fenomena keajaiban Asia Timur pada 1990-an yang kini justru banyak terjadi di Eropa Timur. 

Mengacu pada World Development Report 2024 tentang middle-income trap, dari 38 negara yang berhasil keluar dari jebakan tersebut, hampir separuhnya berasal dari Eropa, khususnya Eropa Timur.

Baca Juga: Airlangga Beberkan Tiga Langkah untuk Pulihkan dan Perkuat Pasar Modal Indonesia

Dalam studi tersebut, ADBI memilih tiga negara sebagai role model yang dinilai relevan bagi Asia berpendapatan menengah atas, yakni Korea Selatan, Polandia, dan Chile. 

Ketiganya berasal dari benua berbeda, memiliki ukuran ekonomi yang tidak kecil, serta tidak bergantung pada satu mesin pertumbuhan seperti negara kaya minyak.

Untuk Korea Selatan, Bambang menekankan keberhasilan negara tersebut dalam mengandalkan sektor manufaktur yang diperkuat inovasi. 

Korea Selatan dikenal memiliki rasio investasi riset dan pengembangan (R&D) terhadap PDB lebih dari 5%,  salah satu yang tertinggi di dunia. 

Pendekatan ini memungkinkan Korea meningkatkan nilai tambah manufaktur dan keluar dari middle-income trap dalam waktu relatif singkat.

"Rasio investasi R&D terhadap PDB di Korea adalah salah satu yang tertinggi di dunia, lebih dari 5% PDB mereka dialokasikan untuk itu," ujar Bambang dalam acara Indonesia Economic Summit 2026, Selasa (3/2).

Sementara itu, Polandia dinilai sebagai contoh pendekatan “tekstual” menuju negara berpendapatan tinggi. Integrasi dengan Uni Eropa, didukung modal manusia yang kuat serta institusi yang solid, menjadi kunci transformasi ekonomi Polandia. 

"Jadi integrasi benar-benar membantu Polandia menjadi ekonomi berpendapatan tinggi, ditambah mereka memiliki sumber daya manusia yang sangat kuat," katanya.

Baca Juga: Ini Alasan Pemerintah Dorong BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan Investasi di Saham

Bahkan, Polandia disebut berpotensi melampaui Korea Selatan dan Jepang dalam beberapa tahun ke depan dari sisi pendapatan per kapita.

Adapun Chile dipandang paling dekat dengan karakteristik Indonesia karena berbasis sumber daya alam. Meski dikenal sebagai produsen tembaga terbesar dunia, keberhasilan Chile tidak semata bertumpu pada komoditas mentah. 

Negara tersebut mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah, baik di sektor pertambangan maupun pertanian, seperti ekspor wine dan salmon.

Menjawab pertanyaan model mana yang paling tepat bagi Indonesia, Bambang menegaskan tidak ada satu negara pun yang bisa dijadikan contoh tunggal.  "Pendekatan paling aman bagi Indonesia adalah pendekatan hibrida," tegasnya.

Pertama, Indonesia perlu memperdalam sektor manufaktur dan hilirisasi dengan pemanfaatan teknologi, mengikuti jejak Korea Selatan. 

Bambang mengingatkan, investasi R&D Indonesia masih di bawah 0,5% dari PDB, jauh tertinggal dari rata-rata negara berpendapatan menengah atas yang mencapai sekitar 2,1%. 

Kedua, Indonesia perlu memperkuat institusi, sebagaimana dilakukan Polandia, guna menjamin kesinambungan kebijakan, koordinasi, dan peningkatan kredibilitas. 

Ketiga, Indonesia perlu meniru Chile dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, termasuk sektor pertanian.

Baca Juga: Airlangga Beberkan Tiga Langkah untuk Pulihkan dan Perkuat Pasar Modal Indonesia

"Jadi, jangan kesampingkan pertanian sebagai sektor potensial untuk mendukung Indonesia menghindari ancaman negara berpenghasilan menengah," pungkas Bambang.

Selanjutnya: Desain iPhone 17e: Bezel Tipis dan Charger Super Cepat Menanti

Menarik Dibaca: Desain iPhone 17e: Bezel Tipis dan Charger Super Cepat Menanti

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×