Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Kepastian regulasi dan kebijakan menjadi faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal pada proyek-proyek infrastruktur di Asia.
Tanpa kerangka kebijakan yang jelas dan stabil, aliran investasi ke sektor infrastruktur berpotensi tertahan meskipun ketersediaan modal global masih melimpah.
Regional Director Singapore Office Asian Development Bank (ADB) Jackie Surtani mengatakan, tantangan utama pembangunan infrastruktur di kawasan saat ini bukanlah kekurangan modal, melainkan masih banyaknya pasar yang belum layak investasi (investable).
"Investor mencari kepastian. Mereka membutuhkan kerangka kebijakan yang jelas, regulasi yang stabil, dan pipeline proyek yang bankable," ujar Surtani dalam Asia Infrastructure Forum (AIF) 2026 di Singapura, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Purbaya Perkuat Pembiayaan APBN ke China lewat Panda Bond
Menurut Surtani, selain kepastian regulasi, investor juga menginginkan risiko yang dapat dipahami dan dikelola secara transparan. Investor tidak mengharapkan seluruh risiko dihilangkan, tetapi membutuhkan struktur proyek yang memungkinkan pembagian risiko secara proporsional.
Faktor ketiga yang semakin dicari investor adalah keberadaan platform investasi yang dapat diperluas dan direplikasi, bukan sekadar proyek tunggal. Menurut Surtani, pendekatan berbasis platform memungkinkan investasi berkembang lebih cepat dan efisien dibandingkan mengembangkan proyek satu per satu.
Ia menilai modal global saat ini sebenarnya masih tersedia dalam jumlah besar. Namun dana tersebut belum mengalir ke proyek-proyek infrastruktur di Asia dalam skala yang dibutuhkan karena banyak pasar yang belum memenuhi kriteria investasi.
"Jika ada satu pelajaran dari pengalaman ADB di Asia Pasifik, kendalanya bukan modal, tetapi pasar. Modal global tersedia, tetapi belum mengalir dalam skala yang diperlukan karena terlalu banyak pasar yang belum investable," katanya.
Untuk itu, ADB mulai menggeser fokus dari sekadar pembiayaan proyek menjadi membantu negara-negara anggota membangun pasar yang lebih menarik bagi investor.
Salah satu contohnya adalah pengembangan ASEAN Power Grid (APG), yang menurut Surtani tidak hanya membutuhkan komitmen politik, tetapi juga harmonisasi regulasi dan penyelesaian berbagai tantangan lintas batas agar dapat menjadi proyek yang bankable bagi investor.
Baca Juga: Investor Serbu Obligasi Global Danantara Meski Premi Risiko Indonesia Tinggi
ADB sendiri telah berkomitmen menyediakan pendanaan sebesar US$ 10 miliar untuk mendukung pengembangan APG dalam satu dekade mendatang. Dukungan tersebut menjadi bagian dari inisiatif yang lebih luas untuk memperkuat konektivitas energi di kawasan Asia.
Menurut Surtani, ketika pasar menjadi lebih investable, modal akan mengalir lebih cepat sehingga pembangunan infrastruktur dapat dipercepat dan memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.
"Ketika pasar menjadi layak investasi, modal akan mengalir lebih cepat, pembangunan akan meningkat, dan lebih banyak kehidupan masyarakat yang dapat diperbaiki," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













