kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.650.000   17.000   0,65%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

4 Risiko ekonomi yang menghantui ekonomi global dan efeknya ke Indonesia


Rabu, 17 Maret 2021 / 15:35 WIB
ILUSTRASI. Ttahun ini ada beberapa risiko yang bisa menjadi sentimen negatif atas outlook ekonomi global.


Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati membeberkan, tahun ini ada beberapa risiko yang bisa menjadi sentimen negatif atas outlook ekonomi global. Risiko tersebut antara lain asset bubbles, ketidakstabilan harga termasuk lonjakan harga komoditas, krisis utang, dan risiko geopolitik.

Ekonom Senior Institute Kajian Strategis (IKS) Universitas Kebangsaan Eric Sugandi mengatakan, dampak risiko ekonomi global tersebut terhadap ekonomi Indonesia bisa negatif atau positif.

Pertama, melonjaknya harga komoditas energi seperti minyak bisa meningkatkan current account defisit Indonesia dan menurunkan surplus neraca dagang. Sebab, Indonesia adalah net importer energi.

Namun demikian, kenaikan harga komoditas perkebunan seperti minyak sawit atau crude palm oil (CPO) bisa memberikan dampak positif pada Indonesia.

Baca Juga: Menkeu: Transformasi digital dapat meningkatkan kepatuhan perdagangan internasional

Kedua, asset bubbles yang pecah bisa menyebabkan capital outflows dari emerging markets, termasuk dari Indonesia. Dampaknya ini berisiko menekan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

Ketiga, krisis utang di salah satu emerging market bisa mempunyai efek menular ke negara-negara emerging markets lainnya. Kata Eric, kreditur dari advanced economies bisa mengurangi komitmen pinjaman mereka ketika negara-negara berkembang membutuhkan dana untuk pemulihan ekonomi.

Keempat, risiko geopolitik yang memang selalu ada, misalnya konflik Laut China Selatan dan Timur Tengah.

Kendati begitu, Eric menilai, ekonomi Indonesia sebetulnya lebih banyak digerakkan oleh faktor domestik daripada oleh faktor eksternal. Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga merupakan kontributor produk domestik bruto (PDB) terbesar dan pendorong utama pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

“Jadi di tengah risiko global tersebut, yang mesti dilakukan pemerintah adalah mempercepat momentum pertumbuhan komponen ekonomi domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi,” kata Eric kepada Kontan.co.id, Rabu (17/3).

Eric memperkirakan, secara umum pertumbuhan ekonomi tahun ini akan lebih baik daripada tahun lalu. Hal ini sejalan dengan tren peningkatan aktivitas ekonomi pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang cenderung lebih ketat di tahun lalu. Proyeksinya ekonomi dalam negeri tumbuh 4,6% year on year (yoy).

Selanjutnya: Sri Mulyani sebut risiko krisis utang jadi tantangan, ini kata ekonom

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Teori, Strategi & Taktik Penagihan Kredit/ Piutang Macet Secara Dini & Terintegrasi Serta Efisien & Efektif

[X]
×