: WIB    —   
indikator  I  

Titik balik bisnis Lippo Group

Titik balik bisnis Lippo Group

Bermula dari sebuah bisnis perdagangan dan perbankan sekitar tahun 1950-an, kini kepakan sayap bisnis Lippo Group terus berkembang di semua lini.
Didirikan oleh Mochtar Riady, Lippo Group tumbuh menjadi salah satu konglomerasi bisnis terbesar di Indonesia. Berdasarkan laporan Forbes pada tahun 2016, jumlah kekayaan Mochtar Riady mencapai US$ 2,1 miliar yang berasal dari bisnisnya di Lippo Group. 

Dengan kekayaan sebesar itu, pria kelahiran Malang 12 Mei 1929 itu didapuk menjadi orang terkaya nomor enam di Indonesia dan nomor 854 di dunia, masih versi Forbes. Saat lahir, oleh orangtuanya, Mochtar diberi nama Lie Moe Tie. Sekitar tahun 1954, Mochtar yang sebelumnya memulai bisnis perdagangan sepeda dan toko kelontong di Jember dan Malang memutuskan untuk mencoba peruntungan ke Jakarta. Di Ibukota, Mochtar awalnya berbisnis usaha angkutan laut dari Pelabuhan Pasar Ikan ke Tembilahan dan Rengat.

Dari sinilah, cerita kerajaan bisnis Lippo Grup dimulai hingga kini memiliki puluhan bahkan ratusan anak usaha di berbagai bidang. Cita-citanya yang kuat untuk menjadi seorang bankir sejak kecil membuat Mochtar akhirnya meniti karier di bidang ini. Sepak terjang Mochtar di bisnis berbankan bermula saat ia bekerja di Bank Kemakmuran pada tahun 1960 dan kemudian bergabung ke Bank Buana sekitar tahun 1963.

Karier Mochtar melaju pesat di bidang perbankan. Tak heran bila Mochtar dijuluki bankir bertangan dingin. Salah satu bank yang besar berkat tangan dinginnya adalah BCA, milik konglomerat Liem Sioe Long. Lama mengabdi pada beberapa perusahaan, Mochtar memutuskan untuk membesarkan Lippobank.

Ada peluang dalam krisis 

Dimana ada krisis, di situlah ada peluang. Keyakinan inilah yang dipegang teguh oleh pendiri Lippo Group Mochtar Riady. Karena keyakinan inilah, saat krisis melanda Indonesia tahun 1997- 1998 Lippo Group berhasil menyelamatkan bisnisnya. 

Pada awal tahun 1995, ekonomi Indonesia mulai bergejolak sebagai imbas krisis keuangan di Asia. Kala itu, mulai banyak kredit macet. Beruntung, kala itu Lippobank menjadi satu-satunya bank yang tak mengambil bantuan BLBI. "Strategi Lippo kala itu adalah perampingan. Jadi melepas aset untuk mempertahankan bisnis yang masih bisa dikembangkan dan dipertahankan," ujar Presiden Direktur Lippo Group Theo L.Sambuaga.


Reporter Handoyo, Herlina KD
Editor Rizki Caturini

LIPUTAN KHUSUS

Feedback   ↑ x
Close [X]