: WIB    —   
indikator  I  

Perusakan karang Raja Ampat, RI harus introspeksi

Perusakan karang Raja Ampat, RI harus introspeksi

GRESIK. Hingga kini, tim terpadu yang menangani kerusakan terumbu karang seluas 1.600 meter persegi di Raja Ampat oleh kapal MV Caledonian Sky masih bekerja. 

“Kami masih menunggu laporan dalam beberapa hari ke depan. Dari laporan yang saya dapat siang tadi, tim asuransi juga turut hadir mengambil data di lapangan,” ucap Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan di Gresik, Senin (20/3).

Laporan tim terpadu, sambung Luhut, nantinya akan menjadi pijakan tindakan hukum yang memungkinkan diambil pemerintah terhadap manajemen kapal pesiar tersebut. Jika dinyatakan bersalah, pihaknya sudah siap mengambil tindakan tegas.

“Mengenai kerugian sampai saat ini masih belum bisa kami pastikan. Semuanya masih dihitung. Selain berapa luasan terumbu karang yang rusak secara rinci, juga bagaimana kapal itu sampai bisa masuk. Kami juga sedang mengumpulkan data, mengenai kemungkinan membawanya ke hukum internasional,” jelasnya.

Luhut menjelaskan, kasus ini telah menyita perhatian dunia. Sebab, terumbu karang yang rusak di Raja Ampat dianggap sebagai warisan bagi Indonesia dan aset dunia.

“Tapi harus introspeksi juga kenapa kapal itu bisa lepas. Pemerintah akan memperkuat peraturan, karena Raja Ampat adalah daerah tujuan wisata yang terumbu karangnya jenis langka di dunia,” tutur Luhut.

Berita sebelumnya, kapal pesiar Inggris, Caledonian Sky, yang berlayar hingga wilayah perairan yang surut di Raja Ampat, mengakibatkan rusaknya terumbu karang di salah satu ekosistem laut terindah di Indonesia tersebut. 

Peristiwa tersebut terjadi pada 4 Maret 2017 lalu, saat kapal berbobot 4.290 ton tersebut selesai mengantarkan 102 penumpangnya melakukan pengamatan burung di Waigeo.

Sebelumnya diberitakan, kapal pesiar Inggris, Caledonian Sky, yang berlayar hingga wilayah perairan yang surut di Raja Ampat, mengakibatkan rusaknya terumbu karang di salah satu ekosistem laut terindah di Indonesia tersebut.

Peristiwa tersebut terjadi pada 4 Maret 2017 lalu, saat kapal berbobot 4.290 ton tersebut selesai mengantarkan 102 penumpangnya melakukan pengamatan burung di Waigeo.

Ricardo Tapilatu, Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Laut Universitas Papua yang melakukan evaluasi mengatakan, kapal tersebut sebenarnya dilengkapi GPS dan radar, tetapi tak diketahui bagaimana bisa terjebak. (Hamzah Arfah)


SUMBER : Kompas.com
Editor Sanny Cicilia

INDUSTRI PARIWISATA

Feedback   ↑ x
Close [X]