: WIB    —   
indikator  I  

Genjot produk hilir di pasar ekspor nontradisional

Genjot produk hilir di pasar ekspor nontradisional

JAKARTA. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan kesepakatan dan perjanjian dengan negara-negara tujuan ekspor non-tradisional menjadi momentum untuk mendorong produk hilir dari sejumlah komoditas andalan Indonesia. Hilirisasi tersebut, selain mengurangi dampak fluktuasi harga komoditas juga memperluas akses pasar dan dampak ekonomi.

Momentum banyaknya kerja sama internasional yang baru, diyakini menjadi indikator bertambahnya keyakinan investor-investor untuk lebih berinvestasi di bidang manufaktur, mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Ia mencontohkan, penandatanganan nota kesepahaman sektor perdagangan dengan Arab Saudi yang baru-baru ini dilakukan untuk komoditas bernilai tambah.

Hal itu menurutnya bisa mendongkrak kembali perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi setelah beberapa tahun ini mengalami kemerosotan. “Masih banyak komoditi lain yang masih bisa kita kembangkan untuk meningkatkan hubungan kerja sama perdagangan antara dua negara," ujar Enggar, Senin (13/3).

Data menunjukkan, transaksi perdagangan Indonesia dengan Arab Saudi periode 2015-2016 mengalami penurunan, sebesar 26% menjadi US$ 4,01 miliar pada 2016 dibanding setahun sebelumnya. Begitupun di 2012 sampai 2014, neraca dagang Indonesia dengan negara-negara yang tergabung dalam Indian Ocean Rim Association (IORA) tercatat defisit sebesar US$ 4,2 miliar, US$ 4,9 miliar dan US$ 1,5 miliar.

Baru pada tahun 2015 neraca dagang Indonesia dengan negara-negara IORA kembali tercatat surplus sebesar US$ 2,5 miliar dan sebesar US$1,45 miliar di 2016. Nilai surplus itupun tersebut belum menyamai capaian terbesar surplus di atas US$ 5 miliar yang terjadi di tahun 1998, 2000 dan 2007.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui, selama puluhan tahun Indonesia terlalu banyak mengandalkan ekspor bahan mentah. “Sudah harga dan nilai tambahnya tidak bagus, kita tak juga bisa menghasilkan kegiatan industri untuk mengolahnya,” katanya. 

Untuk mengatasi ini, menurutnya dibutuhkan perusahaan perdagangan yang besar sehingga memiliki kemampuan dalam mengelola hasil perkebunan tersebut.

Ia mencontohkan, bagaimana selama ini Singapura menjadi negara tujuan ekspor hasil perkebunan Indonesia, menyerap komoditas dengan harga rendah. Namun, ketika sudah sampai di Singapura, hasil perkebunan tersebut diolah lagi, dan malah memiliki nilai jual hingga tiga kali lipat harga yang dibeli dari Indonesia.

Untuk itu, saat ini pemerintah sudah mengambil inisiatif untuk meningkatkan kerja sama di kawasan Samudra Hindia yang lebih jelas arahnya. Bangladesh misalnya, sebut Darmin, ingin menambah impor gerbong kereta api sebanyak 250 unit dan menawarkan kerja sama di bidang farmasi.

“Dengan India, Pakistan dan Bangladesh kita surplusnya besar, sehingga memang pantas dilanjutkan kerjasamanya. Begitu juga dengan Afrika Selatan, Menteri Perdagangan akan segera juga ke sana menindaklanjutinya," imbuh Darmin.


Reporter Hendra Gunawan

KTT IORA

Feedback   ↑ x
Close [X]