kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.822   -47,00   -0,26%
  • IDX 6.177   4,80   0,08%
  • KOMPAS100 808   -9,54   -1,17%
  • LQ45 609   -7,52   -1,22%
  • ISSI 213   1,66   0,79%
  • IDX30 345   -4,23   -1,21%
  • IDXHIDIV20 421   -5,17   -1,21%
  • IDX80 92   -1,32   -1,42%
  • IDXV30 113   -1,72   -1,50%
  • IDXQ30 110   -1,54   -1,38%

Waspadai Dampak El Nino, Inflasi Berpotensi Tembus Level 4,5% di 2026


Minggu, 21 Juni 2026 / 15:45 WIB
Waspadai Dampak El Nino, Inflasi Berpotensi Tembus Level 4,5% di 2026
ILUSTRASI. Genjot Produksi Beras untuk Hadapi El Nino (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.OID-JAKARTA. Fenomena cuaca ekstrem el nino dikhawatirkan dapat mengerek inflasi perlu jadi perhatian pemerintah.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memperkirakan dampak el nino dapat mendorong laju inflasi domestik meningkat di kisaran 4% hingga 4,5% pada akhir 2026.

"Inflasi diperkirakan akan mengarah ke 4%-4,5% di akhir tahun 2026," ujar David kepada Kontan, Minggu (21/6/2026).

Sebagai informasi, el nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang dapat mengubah pola cuaca global.

Baca Juga: Waspada! Ancaman El Nino Godzilla 2026, Siap Hadapi Kemarau Lebih Kering

Bagi Indonesia, el nino umumnya menyebabkan curah hujan berkurang, musim kemarau menjadi lebih panjang, serta meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah sentra pertanian.

Sejumlah lembaga meteorologi internasional memperkirakan El Nino mulai berkembang pada akhir Juni hingga Juli 2026 dan berpotensi berlangsung hingga Oktober atau November.

Kondisi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu produksi pertanian dan pasokan pangan domestik.

Menurut David, dampak el nino terhadap sektor pangan berpotensi menjadi sumber utama tekanan inflasi pada paruh kedua tahun ini.

Produksi sejumlah komoditas pangan diperkirakan menurun akibat berkurangnya pasokan air dan meningkatnya risiko gagal panen.

Ia menilai kenaikan harga dapat terjadi pada berbagai komoditas strategis, mulai dari beras, gula, hingga produk peternakan seperti ayam dan telur.

Selain itu, komoditas hortikultura dan perkebunan seperti cabai, bawang merah, dan jagung juga berpotensi mengalami lonjakan harga.

"Dampak El Nino akan mengerek harga bahan pokok seperti beras, gula, ternak seperti ayam dan telur, serta hasil perkebunan seperti cabai, bawang, dan jagung," kata David.

Baca Juga: Super El Nino Diprediksi Menguat, BMKG Ungkap Kapan Dampaknya Mulai Terasa di RI

Untuk memitigasi risiko tersebut, David meminta pemerintah memastikan kelancaran distribusi bahan pangan serta menjaga kecukupan pasokan di pasar. Langkah antisipatif dinilai penting agar kenaikan harga tidak semakin menekan daya beli masyarakat.

"Pemerintah harus memastikan distribusi barang dan jika diperlukan melakukan impor bahan-bahan pokok tersebut agar dapat dipastikan pasokannya," ujarnya.

Peringatan tersebut sejalan dengan kekhawatiran Bank Indonesia yang sebelumnya menyebut fenomena El Nino sebagai salah satu faktor risiko inflasi pada semester II-2026.

Selain gangguan cuaca, tekanan inflasi juga berpotensi berasal dari imported inflation atau rambatan kenaikan harga energi dan komoditas global ke dalam negeri.

"Faktor risiko inflasi yang menjadi perhatian adalah rambatan global, yaitu harga minyak dan komoditas ke dalam negeri atau imported inflation. Yang kedua, ini belum terjadi tetapi kita sudah alert untuk menghadapinya, yaitu gangguan cuaca," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman belum lama ini.

Baca Juga: Godzilla El Nino Mengancam Lumbung Pangan

Dengan potensi tekanan dari sisi pasokan pangan dan gejolak harga global, inflasi pada akhir tahun diperkirakan akan bergerak lebih tinggi dibandingkan level saat ini per Mei yang sebesar 3,08% yoy.

Karena itu, koordinasi pemerintah, Bank Indonesia, serta pemerintah daerah menjadi krusial untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan menjelang puncak dampak El Nino.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×