Vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi COVID-19, tetap laksanakan 3M


Senin, 16 Agustus 2021 / 15:13 WIB
Vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi COVID-19, tetap laksanakan 3M
ILUSTRASI. Tenaga kesehatan menyiapkan vaksin COVID-19 Moderna untuk disuntikkan kepada rekannya di RSUP Dr. M Djamil Padang, Sumatera Barat, Jumat (30/7/2021). ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra.


Reporter: SS. Kurniawan | Editor: S.S. Kurniawan

KONTAN.CO.ID - Evaluasi efektivitas vaksin COVID-19 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes membuktikan, vaksin mampu menurunkan risiko terinfeksi virus corona, serta mengurangi perawatan dan kematian bagi tenaga kesehatan. 

Studi ini Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes lakukan terhadap 71.455 tenaga kesehatan di DKI Jakarta, meliputi perawat, bidan, dokter, teknisi, dan tenaga umum lainnya sepanjang periode Januari-Juni 2021.

Penelitian tersebut mengamati kasus konfirmasi positif, perawatan, dan kematian karena COVID-19 pada tiga kelompok tenaga kesehatan. Yakni, mereka yang sudah mendapatkan vaksinasi dosis pertama, vaksinasi lengkap, dan yang belum divaksinasi. 

Para tenaga kesehatan ini mayoritas mendapatkan vaksin COVID-19 buatan Sinovac.

Studi berlangsung dalam kondisi pandemi yang dinamis, mengingat sepanjang Januari-Juni 2021 terjadi beberapa gelombang peningkatan kasus COVID-19 serta dinamika komposisi Variants of Concern (VoC) yaitu ada mutasi varian Delta.

Baca Juga: Sertifikat vaksin belum juga muncul di pedulilindungi.id, begini cara cek & solusinya

Juru bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes dr. Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, sebanyak 5% dari tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap dilaporkan terkonfirmasi COVID-19 pada periode April-Juni 2021. 

"Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan tenaga kesehatan yang terkonfirmasi COVID-19 pada periode Januari-Maret 2021 yang jumlahnya hanya 0,98%," kata Nadia dalam keterangan tertulis, 12 Agustus lalu. 

Meski begitu, jumlah tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksinasi lengkap yang harus dirawat jauh lebih rendah, hanya 0,17%, ketimbang mereka yang belum divaksinasi sebesar 0,35%. 

"Hal ini menunjukkan, vaksin COVID-19 yang saat ini digunakan efektif terhadap mutasi virus COVID-19," ujar Nadia.

Sampai saat ini, Nadia menegaskan, belum ada penelitian ataupun bukti ilmiah yang menunjukkan vaksin yang telah diproduksi dan digunakan di berbagai belahan dunia tidak bisa melindungi dari varian baru virus corona. 

"Vaksin yang digunakan dalam upaya kita melakukan penanggulangan pandemi COVID-19 masih sangat efektif," tegas dia.

Baca Juga: Ingat! Meski sudah vaksin COVID-19, tetap harus pakai masker

Demikian pula dengan kejadian kematian akibat COVID-19. Jumlah tenaga kesehatan yang belum divaksinasi yang meninggal relatif lebih besar dibanding yang sudah mendapat vaksinasi lengkap. 

Begitu juga tenaga kesehatan yang baru mendapat vaksinasi dosis pertama, jumlah yang meninggal akibat COVID-19 relatif lebih banyak ketimbang mereka yang menerima dosis lengkap.

Pada dua periode observasi di Januari-Maret dan April-Juni 2021, terlihat proporsi kasus meninggal karena COVID-19 pada tenaga kesehatan yang belum divaksin (0,03%) tidak berbeda dengan tenaga kesehatan yang telah mendapat vaksin dosis pertama (0,03%). 

Sedangkan vaksinasi dosis lengkap melindungi tenaga kesehatan dari risiko kematian dengan rasio 0,001% pada periode Januari-Maret 2021 dan 0,01% selama April-Juni 2021.

Data-data tersebut memperlihatkan, vaksinasi COVID-19 dosis lengkap bisa diandalkan untuk melindungi tenaga kesehatan dari risiko perawatan dan kematian akibat infeksi COVID-19. 

Baca Juga: Jokowi yakin kapasitas respons kesehatan Indonesia semakin siap hadapi pandemi

Efektivitas vaksin COVID-19 dosis lengkap dalam mencegah infeksi COVID-19 pada Januari-Maret sebesar 84%. Dengan kata lain, hanya 2 dari 10 orang tenaga kesehatan yang telah divaksinasi lengkap berpeluang terinfeksi COVID-19.

“Ini menunjukkan, vaksinasi berperan dalam memperlambat risiko infeksi COVID-19. Tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap relatif memiliki ketahanan yang lebih lama untuk tidak terinfeksi COVID-19 dibanding yang belum divaksinasi,” ungkap dr. Nadia

Pada periode April-Juni, total 474 tenaga kesehatan yang dirawat karena terinfeksi COVID-19. Tapi, tenaga kesehatan yang divaksinasi lengkap tidak banyak yang dirawat atau jumlah yang dirawat berkurang hingga 6x lebih rendah, turun dari 18% ke 3,3%.

Data menunjukkan, lama perawatan tenaga kesehatan yang divaksinasi relatif lebih singkat, 8-10 hari dibandingkan dengan yang belum divaksinasi (9-12 hari). D

ari total tenaga kesehatan yang dirawat, 2,3% memerlukan perawatan intensif di ICU. Sebagian besar (91%) dari tenaga kesehatan yang memerlukan perawatan intensif adalah yang belum divaksinasi atau baru mendapat satu dosis.

Meskipun sudah divaksinasi dr. Nadia berpesan, agar tetap melaksanakan protokol kesehatan 3M (mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak). "Karena, kemungkinan kita untuk terpapar virus akan tetap ada. Namun, kemungkinan untuk penderita gejala parah akan semakin kecil," pesannya.

#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #jagajarakhindarikerumunan #cucitangan #cucitanganpakaisabun

Selanjutnya: Jokowi pangkas harga tes PCR jadi Rp 450.000-Rp 550.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Financial Modeling & Corporate Valuation Fundamental Supply Chain Planner Development Program (SCPDP)

[X]
×