kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.087   -43,00   -0,24%
  • IDX 5.924   11,92   0,20%
  • KOMPAS100 771   1,79   0,23%
  • LQ45 589   1,88   0,32%
  • ISSI 204   0,51   0,25%
  • IDX30 334   0,92   0,28%
  • IDXHIDIV20 413   1,96   0,48%
  • IDX80 88   0,34   0,39%
  • IDXV30 112   1,14   1,02%
  • IDXQ30 107   0,13   0,12%

Usai Peluncuran B50, Prabowo Targetkan RI Produksi BBM dari Sawit dan Singkong


Minggu, 12 Juli 2026 / 19:28 WIB
Usai Peluncuran B50, Prabowo Targetkan RI Produksi BBM dari Sawit dan Singkong
ILUSTRASI. Presiden Prabowo Subianto (KONTAN/Youtube TV Parlemen)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Presiden Prabowo Subianto terus mengejar target swasembada energi melalui akselerasi program energi hijau berbasis komoditas lokal. 

Setelah resmi meluncurkan program Biodiesel 50 (B50), Prabowo menegaskan langkah berikutnya adalah memproduksi bensin dan etanol melalui komoditas sawit singkong dan jagung. 

"Dan, profesor-profesor kita sekarang sedang mengembangkan bensin dari kelapa sawit, etanol dari singkong, dari jagung," ungkap Prabowo dalam Puncak Peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Senayan, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026). 

Prabowo meyakini swasembada energi terbarukan ini dapat terealisasi secara komersial dalam kurun waktu kurang dari lima tahun ke depan.

Baca Juga: Outlook Pembiayaan APBN 2026 Naik, Pemerintah Diminta Tetap Konservatif

"Jadi saya harap dalam 3-4 tahun lagi kita bisa menghasilkan bensin dari tanaman," tegas Prabowo

Prabowo menegaskan swasembada energi ini diperlukan guna memperkuat neraca perdagangan sekaligus mengamankan pasokan energi nasional dari gejolak geopolitik global. 

Prabowo mengklaim bahwa realisasi pemanfaatan minyak kelapa sawit domestik melalui program B50 terbukti langsung memotong pengeluaran devisa negara secara signifikan.

"Baru beberapa hari yang lalu kita launching solar B50. Petani kelapa sawit ada di Indonesia, minyak kelapa sawit ada di Indonesia, mulai bulan ini kita tidak impor lagi solar dari luar negeri," ujar Presiden. 

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menegaskan implementasi program mandatori biodiesel 50% atau B50 akan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap impor minyak.

Menurut Bahlil, peningkatan bauran biodiesel dari B40 menjadi B50 mampu menciptakan efisiensi fiskal yang lebih besar sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

"Yang berikut meningkatkan penghematan devisa kurang lebih sekitar Rp 133 triliun pada program B40, nah dengan implementasi B50 itu ternyata Rp 170 triliun," ujarnya dilansir dari siaran Sekretariat Presiden, Kamis (9/7/2026).

Selain mengurangi impor minyak, Bahlil mengatakan kebijakan hilirisasi kelapa sawit melalui program B50 juga akan memberikan kepastian pasar bagi petani swadaya. Pemerintah berkomitmen mengoptimalkan pemanfaatan minyak sawit di dalam negeri, terutama ketika permintaan ekspor melemah.

"Jadi kalau pengusaha-pengusaha kita, katakanlah CPO harganya di luar rendah dan negara lain tidak mau, sebagian kita sisihkan saja untuk kita bangun hilirisasi B50 supaya harga petani naik, industri naik, negara sejahtera," ungkapnya.

Baca Juga: Prabowo: Kopdes Merah Putih Akan Salurkan Kredit Super Mikro dengan Bunga 8%

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×